banner 728x250

Tentara Papua Barat Siap Kibarkan Bendera Bintang Kejora, 1 Desember 2022, Hari Ulang Tahun ( HUT) Usia Ke- 61 Tahun Di Mabes Totio

Avatar photo
banner 120x600

Foto pengibaran bendera bintang kejora di markas besar (Mabes) totio Dok The TPNPB News/vull.

TOTIO, THETPN-PBNEWS.COMMemperingati Hari Ulang Tahun Embrio bangsa West Papua, Tentara Papua Barat dibawah tiga komando (TPN-PB OPM, TNPB dan TRWP) di seluruh tanah West Papua tetap melakukan dan akan dilaksanakan upacara pengibaran Bendera Bintang Kejora.

Hal itu di laporkan langsung oleh Panglima Tertinggi West Papua Army Sorong sampai Samarai Tn Jendral R.R Damianus M Yogi, melalui sambung seluler. Senin (28/11/2022) dari Mabes Totiyo Paniai.

Yogi sampaikan Seluruh Militer Papua barat setiap daerah perwakilan Sorong sampai Samarai akan menghadiri di Markas Besar West Papua Army Totiyo Paniai untuk memperingati Hari Ulang Tahun Embrio Bangsa West Papua yang jatuh pada tanggal, 1 Desember 1961 sampai dengan 1 Desember 2022 mencapai usia Ke-61 Tahun.

Setiap pada tanggal, 1 Desember merupakan hari di mana Bangsa Papua dikenalkan kepada dunia internasional sebagai bangsa yang siap merdeka. Hal itu yang kemudian terus diperjuangkan untuk diakui selama 61 tahun,” ujarnya.

“Kami bangsa Papua menuntut untuk mendapatkan tempat kami sendiri. Sama seperti bangsa-bangsa merdeka di antara bangsa-bangsa itu kami bangsa Papua ingin hidup sentosa dan turut memelihara perdamaian dunia,” demikian bunyi manifesto tersebut.

Seperti Indonesia, Rimbah Ribut Yogi mengatakan inisiasi kemerdekaan Papua Barat juga diakui oleh pemerintahan Belanda. Momentum pengakuan tersebut jatuh tepat pada tanggal, 1 Desember 1961.

Semenjak saat itu, kata Demianus Magai Yogi, serangan militer Indonesia kerap mendapatkan perlawanan dari pihak OPM.

“Pemberontakan dilakukan setelah ada pertemuan tokoh-tokoh pada 26 Juli 1965. Pemimpinnya Johan Ariks, Ferry Awom, dan Mandatjan bersaudara (Lodwick dan barren),” jelasnya.

Hal tersebut kemudian berlanjut dan memuncak kala Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada 1969 tidak dijalankan dengan sistem satu suara perorang, yang diakui secara internasional. Melainkan menggunakan sistem perwakilan yang berujung pada suara bulat bergabung dengan Indonesia.

Dua tahun berselang, tepatnya pada 1 Juli 1971, Seth Jafet Rumkorem mantan anggota TNI-AD Kodam Diponegoro memproklamasikan pemerintahan Papua Barat di Markas Victoria (Marvit), Jayapura. Pemimpin Panglima Tertinggi West Papua Army mengatakan, susunan kabinet sementara dan konstitusi Sementara Republik Papua Barat juga telah diumumkan dan ditetapkan secara bersamaan.

Sayangnya, terjadi perpecahan di tubuh pemerintahan Seth Jafet Rumkorem Jacob Prai yang sebelumnya mendukung Seth Jafet Rumkorem memutuskan untuk heningkang pada Maret 1976, dan mendirikan kelompok OPM baru pada Desember tahun yang sama.

“Di situlah akar perpecahan terjadi, dan akhirnya beberapa kelompok gerilyawan muncul sendiri-sendiri dengan masing-masing pemimpinnya. Jadi peristiwa perayaan 1 Desember itu murni untuk merayakan cikal-bakal negara Papua yang telah diumumkan oleh Belanda. Bukan pada kelompok-kelompok pembebasan,” terang Demianus M Yogi.

Redaksi: Gen,RR Vull

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *