Breaking News
banner 728x250

Solomon Island dan PNG Soroti Kekerasan di Tanah Papua

banner 120x600
banner 468x60

Presiden Catholic Bishops Conference of Papua New Guinea and Solomon Islands (CBC PNGSI).

TOTIO,The TPN-PBNews.com — Keuskupan Katolik Papua Nugini (PNG) dan Kepulauan Solomon menyoroti berbagai pelanggaran hak asasi manusia (HAM) di Tanah Papua.

banner 325x300

Sentuhan tersebut disodorkan oleh Presiden Catholic Bishops Conference of Papua New Guinea and Solomon Islands (CBC PNGSI).

“Kami telah berdoa kepada Tuhan untuk mengarahkan kami untuk dapat mengekspresikan simpati dan solidaritas kami. Ia berbisik kepada kami untuk terus mengingat penderitaan saudara-saudara kami dengan sepenuh hati, sebagaimana kami mempersiapkan perayaan kelahiranNya di dunia, pada hari Natal,” tulis juga Presiden Catholic Bishops Conference of Papua New Guinea and Solomon Islands (CBC PNGSI).

Anton Bal yang juga merupakan Uskup Madang menjelaskan, ketika serangan dan kekerasan terjadi, anak-anak tertembak oleh peluru, masyarakat bersembunyi atau melarikan diri melewati perbatasan, menandakan ada sesuatu yang salah dengan hubungan antar-manusia.

Presiden Gereja Injili di Indonesia atau GIDI, Pdt. Dorman Wandikbo, mengatakan tahun ini masih banyak warga di berbagai wilayah Papua merayakan Natal di pengungsian. Misalnya di Distrik Suru-suru, Kabupaten Yahukimo, di Kabupaten Nduga, di Ilaga, Kabupaten Puncak, dan berbagai daerah lain. Mereka mengungsi karena kekerasan bersenjata yang terjadi di kampung mereka.

“Hari ini kita dari daerah ini, bisa menikmati Natal. Tetapi, saudara-saudara kita di daerah Yahukimo di [Distrik] Suru suru, Nduga, Ilaga [Kabupaten Puncak], masih ada yang mengungsi. Mereka tidak menikmati Natal. Mereka ada dalam hutan,” kata Pdt Dorman Wandikbo usai meresmikan Gereja GIDI Jemaat Yerusalem Danggena di Distrik Wollo, Kabupaten Jayawijaya, Selasa (21/12/2021).

Bal menegaskan tidak ada argument yang disengaja, inisiatif legislatif, perkembangan pembangunan, dan aktivitas militer yang dapat membawa kedamaian dan harmoni. Hal tersebut hanya dapat terjadi karena kerendahan hati dan kesediaan untuk mendengar dari seluruh pihak, dimulai dengan senjata yang paling kuat dan lebih baik.

“Kami percaya bahwa 58 (lima puluh delapan) tahun konflik telah cukup membuktikan bahwa isu Papua Barat belum terselesaikan dan tidak akan pernah ada dalam kondisi sekarang,” lanjutnya.

Gereja Katolik Papua New Guinea dan Kepulauan Solomon meyakini bahwa persepsi Melanesian tentang ‘tanah’ sangatlah kuat, kultural dan juga spiritual. Hal tersebut tidak bisa diabaikan. Tidak ada ‘tanah kosong’ dalam tradisi Melanesia. Orang, suku dan tempat tinggal leluhur adalah satu dan makhluk yang sama.

Kompromi politik mungkin tidak mudah dan tidak datang dengan cepat. Sebagai prasyarat, dibutuhkan larangan total atas penggunaan kekuatan dan tekad untuk berunding sampai tercapai kesepakatan yang memuaskan semua pihak.

Bal meminta PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa), negara-negara Asia Tenggara dan Melanesia membantu memudahkan proses. Kesepakatan dan resolusi masa lalu membutuhkan negosiasi dan penyesuaian lebih lanjut karena perdamaian dan keamanan gagal terwujud* (vullmembers Alampa)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *