banner 728x250

Realitas Kejahatan Kemanusiaan Dan Ketidakadilan di Papua

Avatar photo
banner 120x600

Ist pribadi yoman

MARI, KITA MENDIDIK SAUDARA-SAUDARA KITA INDONESIA TENTANG KEBENARAN SEJARAH RAKYAT DAN BANGSA PAPUA BARAT

“Kita memang berbeda dalam keyakinan iman dan pandangan ideologi politik, tetapi kita bersaudara dalam nilai kasih, kemanusiaan, kesamaan derajat, keadilan  perdamaian untuk semua.”

Oleh Gembala DR. A.G. Socratez Yoman

“…tetaplah menulis menceritakan dari Papua yang berbeda dengan versi Jakarta, semoga Tuhan selalu memberkati Bapa dengan sehat dan semangat membela masyarakat Papua” (Prof. Dr. Cahyo Pamungkas, 26 Juli 2021).

“Bapak sudah diberikan karunia khusus. Karunia yang bapak punya tak bisa diukur.
Karena ide-ide pak Yoman yang justru bisa membangun dan membangkitkan Papua. Tapi mungkin dari sudut pandang Pemerintah itu terkesan memprovokasi.  Itu juga yang sering saya dengar dari teman-teman  yang kerja di Pemerintah. Tapi apapun itu tidak jadi masalah pak Yoman,  sepanjang pak Yoman punya nilai-nilai kebenaran dalam perjuangan ini. Salut dan tetaplah menulis.”  (Benboy Sitohang, 16 Juli dan 26 Juli 2021).

Jantung kejahatan Negara terhadap orang asli Papua ialah RASIALISME. Perilaku rasisme Indonesia itu tebukti dengan pembuatan Perjanjian New York 15 Agustus 1962 yang tidak melibatkan orang asli Papua dan pelaksanaan Pepera 1969 cacat hukum dan moral yang dimenangkan oleh ABRI (sekarang: TNI) dan melahirkan pelanggaran HAM berat yang disebut tragedi kemanusiaan terlama dan terpanjang dalam sejarah di Asia Pasifik.

Pelanggaran HAM berat yang dilatarbelakangi dengan RASIALISME ini sudah menjadi LUKA MEMBUSUK dan LUKA BERNANAH di dalam tubuh bangsa Indonesia.

Obat LUKA MEMBUSUK dan BERNANAH ini bukan Otsus, bukan UP4B, dan juga bukan  Daerah Otonomi Baru BONEKA di TANAH Papua.

Otsus, UP4B dan DOB BONEKA itu bukan obat yang tepat. Itu menambah dan memperdalam luka semakin membusuk dan bernanah.

Otsus, UP4B, DOB BONEKA Indonesia di TANAH Papua itu  mesin pendudukan, penjajahan, penjarahaan, dan pemusnahan etnis orang asli Papua.  Semuanya ini 100% kepentingan penguasa kolonial modern Indonesia.

OMONG KOSONG NKRI harga mati di Papua. KEBOHONGAN besar berjalan telanjang di siang bolong di TANAH Papua dengan mengobyekkan atau memamipulasi “slogan” kepentingan dan keamanan nasional. Sesungguhnya harga mati  bagi bisnis dan ekonomi para penguasa, para jenderal dan para pengusaha/pembisnis di TANAH Papua.

LUKA MEMBUSUK dan BERNANAH di dalam tubuh bangsa Indonesia tidak bisa disembunyikan dengan topeng-topeng, stigma, label daan mitos-mitos: separatis, KKB, Makar, OPM dan teroris. 

Pemerintah dan TNI-POLRI Perlu merenungkan pernyataan iman dari Prof. Dr. Franz Magnis dan Pastor Frans Lieshout adalah fakta, realitas, kenyataan, bukti tentang apa yang dilakukan penguasa kolonial Indonesia terhadap rakyat dan bangsa West Papua.

“Ada kesan bahwa orang-orang Papua mendapat perlakuan seakan-akan mereka belum diakui sebagai manusia…..“Situasi di Papua adalah buruk, tidak normal, tidak beradab, dan memalukan, karena itu tertutup bagi media asing. Papua adalah LUKA MEMBUSUK di tubuh bangsa Indonesia.” (hal.255).

“…kita akan ditelanjangi di depan dunia beradab, sebagai bangsa yang biadab, bangsa pembunuh orang-orang Papua, meski tidak dipakai senjata tajam.” (hal.257). (Sumber: Franz: Kebangsaan, Demokrasi, Pluralisme Bunga Rampai Etika Politik Aktual, 2015).

Sementara Pastor Frans Lieshout melihat bahwa “Papua tetaplah LUKA BERNANAH di Indonesia.” (Sumber: Pastor Frans Lieshout OFM: Gembala dan Guru Bagi Papua, (2020:601).

Pastor Frans Leishout,OFM melayani di Papua selama 56 tahun sejak tiba di Papua pada 18 April 1969 dan kembali ke Belanda pada 28 Oktober 2019. Pastor Frans dalam surat kabar Belanda De Volkskrant ( Koran Rakyat) diterbitkan pada 10 Januari 2020, menyampaikan pengalamannya di Tanah Papua.

” Saya sempat ikut salah satu penerbangan KLM yang terakhir ke Hollandia, dan pada tanggal 1 Mei 1963 datanglah orang Indonesia. Mereka menimbulkan kesan segerombolan perampok. Tentara yang telah diutus merupakan kelompok yang cukup mengerikan. Seolah-olah di Jakarta mereka begitu saja dipungut dari pinggir jalan. Mungkin benar-benar demikian.”

“Saat itu saya sendiri melihat amukan mereka. Menjarah barang-barang bukan hanya di toko-toko, tetapi juga di rumah-rumah sakit. Macam-macam barang diambil dan dikirim dengan kapal itu ke Jakarta. Di mana-mana ada kayu api unggun: buku-buku dan dokumen-dokumen arsip Belanda di bakar.” (2020: hal. 593).

Pastor Frans menggambarkan tentang siapa sebenarnya Indonesia. “Wajah Indonesia dari semula wajah sebuah kuasa militer.” (hal. 594).

Amirudin al Rahab membenarkan dan memperkuat, “…orang-orang Papua secara perlahan, baik elite maupun jelata juga mulai mengenal Indonesia dalam arti sesungguhnya. Singkatnya dalam pandangan orang Papua, ABRI adalah Indonesia, Indonesia adalah ABRI.” (Sumber: Heboh Papua, 2010, hal.43.

Beberapa bentuk pelanggaran HAM berat yang telah menjadi  LUKA MEMBUSUK DAN BERNANAH di dalam tubuh bangsa Indonesia sebagai berikut:

  1. Biak Berdarah pada 6 Juli 1998;
  2. Abepura (Abe) berdarah pada 7 Desember 2000.
  3. Wasior berdarah pada 13 Juni 2001.
  4. Kasus Theodorus (Theys) Hiyo Eluay dan Aristoteles Masoka pada 10 November 2001.
  5. Wamena berdarah pada 4 April 2003.
  6. Kasus Musa (Mako) Tabuni 14 Juni 2012.
  7. Kasus Paniai berdah pada 8 Desember 2014.
  8. Kasus Pendeta Yeremia Zanambani pada 19 November 2020.

9.Bagaimana dan sejauh mana penguasa kolonial Indonesia bertanggungjawab untuk penggembalian 60.000 penduduk orang asli Papua ke kampung halaman mereka dan sampai saat ini masih berada di dearah-daerah pengungsian akibat operasi militer besar-besaran di Nduga, Intan Jaya, Puncak, Yahukimo, Maybrat dan Pegunungan Bintang.

10.  Dan masih ratusan, bahkan ribuan korban orang asli Papua ditamgan penguasa kolonial modern Indonesia.

Dimana sekarang ini, Kombes Pol. Daud Sihombing,SH dan Brigjen. Polm Drs. Johny Wainal Usman? Orang-orang ini seharusnya dihukum seberat-beratnya atau dihukum seumur hidup, bila perlu dihukum mati karena tindakan mereka menyebabkan Orry Doronggi dan Johni  Karunggu mati ditangan polisi di kamar tahanan polres Jayapura. Dalam kasus ini banyak mahasiswa yang disiksa dan dianiaya dengan cara-cara biadab, kriminal, barbar dan rasis.

Pledoi Pribadi (Pembelaan Pribadi) Komisaris Besar Polisi Drs. Daud Sihombing, SH (Dahulu Kapolres Jayapura) di Makassar, 29 Juli 2005, berjudul: “Jangan Terperdaya Oleh Maksud Jahat Dari Para Pengkhianat Negara.”

Memang, Iblis itu cerdik dan licik, jadi penjahat kemanusiaan ini berlindung dibalik  tameng Negara. Sesungguhnya, Daud Sihombinglah pengkhianat martabat kemanusiaan dan menghina serta melecehkan manusia sebagai gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26).

Dimana Letkol Inf Hartomo, Kapten Inf Rionardo, Sertu Asrial, Praka Achmad Zulfahmi, Mayor Inf Donni Hutabarat, Lettu Inf Agus Soeprianto dan Sertu Lorensius Li?

7 orang ini dengan tangan mereka memegang Theodorus Hiyo Eluay dan sopirnya Aristoteles Masoka. Apakah 7 orang ini sudah diberikan hukuman setimpal sesuai dengan perbuatan kejahatan kemanusiaan terberat ini? Apakah mereka ini dinobatkan sebagai pahlawan nasional setelah menculik, membunuh dan menghilangkan nyawa rakyat sipil ini?

Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu menganggap anggota Kopassus yang dihukum karena melakukan pembunuhan terhadap Ketua Presidium Dewan Papua Theys Hiyo Eluay sebagai pahlawan. Ryamizard meminta anggota Kopassus tersebut dihukum ringan. Hukum mengatakan mereka bersalah. Okelah dia dihukum. Tetapi bagi saya dia pahlawan.” (( Tempo, Interaktif: 23/4/2003).

Aneh tapi nyata, penguasa kolonial modern Indonesia berusaha target Sidang PBB Tahunan  pada bulan September 2022 dengan merekayasa dan berpura-pura menyelesaikan kasus Paniai 8 Desember 2014 dengan tuduhan pelakunya hanya satu anggota TNI. Peristiwa ini terjadi pada waktu siang dan disaksikan oleh orang banyak dan dalam peristiwa tersebut, 17 orang lainnya luka-luka. Dalam laporan KontraS menyebutkan bahwa lima orang yang tewas bernama Otianus Gobai (18), Simon Degei (18), Yulian Yeimo (17), Abia Gobay (17) dan Alfius Youw (17).

Apakah lima siswa yang tewas ini ditembak  hanya oleh satu orang anggota TNI? Siapa Komandan lapangan yang memerintahkan untuk melakukan penembakan yang menyebabkan hilangnya nyawa lima orang siswa? Siapa komandan yang lebih tinggi dari komandan di lapangan? Artinya siapa Dandim, dan siapa Pangdam? Apakah dalam TNI tidak ada garis komando?

LUKA MEMBUSUK dan BERNANAH di dalam tubuh bangsa Indonesia karena ada jantung atau akar masalahnya: Rasialisme, Fasisme, Kolonialisme, Kapitalisme, Ketidakadilan, Imperialisme.

Kesimpulan dari tulisan ini, saya mau sampaikan dari perspektif atau dimensi iman, bahwa darah, air mata, tulang belulang dan penderitaan orang-orang asli Papua selamanya mengejar penguasa Indonesia dan anak cucu mereka. Hari ini mereka berfikir hebat dan menang tapi siapa menanamkan kejahatan pasti memetik hasil kejahatan juga.

“Ingat, hukum TABUR dan TUAI itu akan berlangsung. KARMA itu akan terjadi. Apakah kalian tidak puas? Kita lihat apa yang terjadi?” (Muhammad Rivai Darus, SH, Jurubicara Gubernur Papua, 11 April 2022).

Doa dan harapan saya, tulisan ini menjadi berkat bagi para pembaca.  Selamat membaca.

Ita Wakhu Purom,  30 Juni 2022

Penulis:

  1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.
  2. Pendiri, Pengurus dan Anggota Dewan Gereja Papua (WPCC).
  3. Anggota Konferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC).
  4. Anggota Baptist World Alliance (BWA).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *