banner 728x250

Mobilisasi Rakyat Papua menuju Deklarasi “PERLAWANAN TANPA HENTI” terhadap Penguasa.

Avatar photo
banner 120x600

menuju Deklarasi “PERLAWANAN TANPA HENTI” terhadap Penguasa. (Ist Dok)

TOTIO, THETPN-PB1NEWS.Com- Sejak akhir bulan Februari hingga 3 juni, Ribuan rakyat turun kejalan-jalan hampir diseluruh wilayah Papua menolak kebijakan penjajah tentang; “cabut otsus, tolak pemekaran dan gelar referendum” sebagai solusi demokratis bagi penyelesaian akar persoalan di Papua. Sabtu, 18 Juni 22 Kepada Media Ini

Tuntutan rakyat Papua tidak direspon baik oleh jakarta, bahkan elit-elit politik di papua pun tutup telinga, tidak merespon tuntutan rakyat papua. Hal ini dapat kita lihat melalui beberapa sikap yang di tingkat elit di Papua:

Pertama, aspirasi rakyat yang diserahkan kepada DPRD, DPRP dan MRP hanya diteruskan kepada jakarta. Di lain sisi, Walaupun terdapat ruang dimana yang kita kenal dengan Rapat Dengar Pendapat Rapat umum (RDPU) antara Fraksi baik yang di DPRP maupun DPRD atau di melalui sidang Paripurna guna membahas aspirasi rakyat yang disampaikan, Namun, hal itu tidak dilakukan sama sekali. Jelasnya

Kedua, mobilisasi gerakan perlawanan rakyat yang semakin meningkat dan meluas di seluruh tanah Papua masih terus dipandang sebelah mata elit politik di Papua, hal ini ditandai dengan pertemuan 29 bupati pada selasa (9/5/2022) di hotel sentani indah, Jayapura, yang mendukung pemekaran provinsi. Dalam deklarasi ini juga ditandatangani oleh ketua DPR Provinsi papua. Selain itu, deklarasi terbuka yang dilakukan oleh Eltinus Omaleng selaku ketua asosiasi bupati Mee-pago di Timika pada (15/6), dengan sombongnya Eltinus mengklaim bahwa 350 000,00 jiwa yang berada di Timika secara sah mendukung pemekaran Provinsi. Dan yang terbaru melalui rapat kerja pada (15/6), lukas Enembe selaku Gubernur Papua menyatakan mendukung pemekaran apabila, Pemekaran dilakukan sesuai dengan Tujuh wilayah adat. Ungkap

Ketiga, selain elit politik Papua, beberapa ormas reaksioner lainya seperti Lembaga masyarakat Adat (LMA) bentukan negara di bawah kepemimpinan Lenis Kogoya didukung kuat aparat kekerasan bersenjata (militer/TNI-Polri) terus mendorong deklarasi dukungan pemekaran di wamena, 1 juni 2022. Bebernya

Keempat, dalam semua rangkaian kegiatan deklarasi dukung pemekaran provinsi di semua tempat Militer/(TNI/Polri) turut Andil dalam mempersiapkan dan menyukseskan kegiatan dengan mengibarkan benderah Merah Putih. Pungkas

Disisi lain, aksi penolakan rakyat Papua beberapa tempat selalu di hadang dan dibubarkan secara paksa dengan cara KEKERASAN dan penangkapan.

Kekerasan terhadap gerakan masih terus dilakukan oleh aparat militer di lapangan pada aksi demonstrasi, seperti yang terjadi pada aksi Nasional Petisi Rakyat Papua (PRP), pada (3/6) di beberapa tempat baik di papua maupun di indonesia, antara lain;

Timika, Jayapura, Merauke, Sorong, bahkan di luar papua seperti di bali, aksi mahasiswa di bentur dengan ormas Reaksioner, sama halnya juga di Makassar, terjadi bentrok luar biasa antar ormas reaksioner bentukan negara hingga berujung pengepungan Asrama Mahasiswa Papua di makassar oleh pihak kepolisian, BRIMOB sejak tanggal 8 hingga 15 Juni, kemarin.

Sungguh biadap! elit politik Papua bermental budak, mereka yang penakut dan tidak bernyali ini, masih ingin dikontrol langsung oleh jakarta. Apa bedanya mereka dengan ‘kerbau’ yang yang diikat hidungnya lalu dibawa kesana-kemari?

Di tengah perjuangan rakyat Papua yang berdarah-darah dengan sombong alit lokitik bajigan ini masih terus mengabaikan tuntutan rakyat Papua serta menjelaskan kepada rakyat bahwa pemekaran adalah solusi untuk menjawab kesejahteraan, dengan menyembunyikan fakta ancaman yang ada didepan mata.

Atas dasar itu Rakyat Papua tidak harus menggantungkan harapan apapun kepada siapapun! Sekalipun elit-elit politik Papua bermental budak itu, termasuk tokoh-tokoh papua (bentukan—penjajah) yang selalu mengatasnamakan adat, agama/gereja, perempuan, pemuda di Papua. Mereka layaknya legiun keparat yang terus mempertahankan perampokan penjarahan, di atas negeri tercinta kita, West Papua. Jelasnya Wenda

Hingga hari ini telah kita saksikan jelas bahwa elit politik Papua telah bersatu bersepakat untuk menindas rakyat Papua, saat ini, mereka berdiri bersama kelas berkuasa kolonialisme jakarta untuk terus memperpanjang penderitaan, melanggengkan perbudakan, pemenjarahan diatas tanah airnya, dan terhadap rakyatnya sendiri. Pungkasnya

Rakyat Papua, tidak alasan bagi kita untuk diam dan terpecah belah. Jika elit telah bersatu bersama jakarta untuk menindas rakyat Papua, maka tidak ada alasan rakyat papua terpecah belah. Rakyat Papua harus bersatu dan mendeklarasikan “PERLAWANAN TANPA HENTI” terhadap kelas penguasa kolonialisme indonesia serta bonekanya Elit politik di Papua. Lanjut Wenda

Untuk itu, Seruan perlawanan terhadap kelas penguasa harus dibunyikan di seantero wilayah Papua dari sudut-sudut pelosok perkampungan, desa-desa hingga menembus jantung kota penjajah (Jakarta). Tutur Jefry

Di semua tempat (seluruh tanah papua), rakyat Papua harus bergerak maju, berjuang tanpa henti hingga titik darah penghabisan, demi merebut kembali cita-cita sejati Pembebasan Nasional Papua Barat (PAPUA MERDEKA). Pungkas wenda

Pewarta : Jefry Wenda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *