banner 728x250

Marinus Yaung Traif DOB Bisa Membangkitkan Spirit Papua Merdeka

Avatar photo
banner 120x600

Akademisi Universitas Cenderawasih, Marinus Yaung.

JAYAPURA,THETPN-PBNEWS.COM – Persoalan pemekaran Daerah Otonomi Baru (DOB) Papua masih terus jadi perbincangan hangat di kalangan akademisi, dan masyarakat hingga kini.

Akademisi Universitas Cenderawasih (Uncen), Marinus Yaung mengatakan, memekarkan Papua menjadi beberapa Provinsi baru adalah agenda strategis negara dalam melahirkan kebijakan subtitusi politik.

Tujuannya, untuk mejawab aspirasi politik Papua Merdeka.

“Karena politik Papua Merdeka yang diusung ULMWP dan OPM adalah bagian dari perjuangan untuk memperoleh kekuasaan dalam konsep makro. maka pemerintahan Jokowi menjawabnya dalam bentuk konsep kekuasaan mikro,” ujarnya keterangan tertulis yang diterima THETPN-PBNEWS.COM, Selasa (8/3/2022).

Selain itu, menurut akademisi Uncen itu, kebijakan pemerintah dengan adanya DOB juga merupakan suatu keniscayaan yang tak bisa dihambat.

“Hambatanya mungkin cuma datang dari sumber pembiayaan yang berasal dari APBN,” katanya.

Menurut Marinus, pemerintah pusat akan menghitung dengan cermat volume pembiayaan setiap provinsi baru di Papua.

“Ini agar tidak membuat APBN semakin defisit dan pinjaman luar negeri semakin meningkat untuk menutupi defisit tersebut,” jelasnya.

Lanjut Marinus, kebijakan subtitusi politik dari macro power ke micro power dalam bentuk DOB, adalah win-win solution yang tidak merubah bentuk negara, tetapi menciptakan negara-negara kecil di dalam negara di Papua.

“Dengan membentuk konsep micro power state DOB Provinsi Papua, spirit Papua Merdeka dalam segala bidang kehidupan, seperti pendidikan dan kesehatan, bisa diimplementasikan orang asli Papua sendiri,” ujarnya.

Menurut Akademisi itu, soal merdeka belajar, berinovasi dan berkreatifitas dalam pembangunan sesuai konteks dan identitas lokal Papua untuk mencapai kebahagian hidup dan merebut masa depan ini bisa dicapai ketika micro power, atau negara-negara kecil berada di tangan orang asli Papua.

“Jangan takut dan kuatir dengan migrasi warga nusantara yang mengancam piring makan orang asli Papua di wilayah negara – negara kecil tersebut. Selama powernya masih di tangan orang asli Papua, tegaskan bahwa wilayah otoritasnya ini adalah wilayah kedaulatan orang asli Papua,” ujarnya.

Memang konsep subtitusi politic strategy dari macro power ke micro power, adalah sebuah konsep tentang distribusi kekuasaan (transfer of authorithy), yang masih baru di telinga orang Papua.

“Tetapi menurut saya perlu dipahami oleh para elit dan pejabat Papua saat ini untuk dikomunikasikan kepada kelompok sipil pro Papua Merdeka di Papua, bahwa inilah plan B dari perjuangan politik oleh ULMWP dan OPM selama ini,” jelasnya.

Kata Marinus, apabila tidak ada strategi alternatif, maka krisis politik atas konsep Papua Merdeka dan NKRI harga mati, akan selalu menjadi sumber bencana kemanusian di bumi cenderawasih.

“Artinya sesama anak bangsa, akan saling bunuh dan membinasakan. Oleh sebab itu mari kita cari solusi alternatif,” katanya.

Maka terkait DOB, menurut Marinus spirit Papua Merdeka tidak perlu mati perlu diinternalisasikan semangatnya dan nilai-nilainya ke dalam setiap regulasi daerah di wilayah negara-negara kecil tersebut.

“Sebab untuk membentuk negara di dalam negara adalah bentuk politik akomodatif Presiden Jokowi terhadap Papua,” ujarnya.

Kata Marinus, meskipun tidak populer di senayan, namun bagi Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang terpenting merah putih masih berkibar di Bumi Cenderawasih*. (Vullmembers Alampa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *