banner 728x250

Kasihan Mama Papua Jualan di Pinggir Jalan.

Avatar photo
banner 120x600

Ilustrasi mama-mama berjualan [dok;Yulian B; untuk – LAK]*

Kasihan Mama Papua, Jualan di Pinggir Jalan.

Penulis : Boma

OPINI – MAMA-MAMAdi Papua berjualan beraneka makanan di pinggiran jalan. Makanan diantaranya; sayur-sayuran, umbi-umbian dan buah-buahan di pinggir jalan, depan toko-toko besar dan depan kios-kiosan pedagan pendatang.

Pengamatan kami aktivis mahasiswa bahwa, “mama-mama Papua yang berjualan mandi keringat di bawah terik matahari, pasalnya tidak ada tempat yang layak untuk mereka berjualan”.

Berkali-kali debu tanah menempel di muka, kepala terasa tertusuk sinar matahari, tangan hingga kaki keringat menguyur seluruh tubuh. Walaupun demikian, semangat dagang mereka terus meningkat untuk mencukupi kebutuhan keluarganya, “sayang mama Papua. 

Untuk itu, pemerintah Provinsi Papua bahkan pemerintah Daerah lebih spesifik di Meepago, yakni; kabupaten Nabire, Dogiyai, Deiyai, Paniai dan Intan Jaya prioritaskan bangunan Pasar untuk masyarakat menampung berjualan. 

Agar masyarakat setempat layak hidup nyaman dan bisa mencukupi kebutuhan dengan hasil keringat mereka sendiri, “tuturnya.

Mama-mama mengatakan, “pekerjaan seharian kami berjualan merupakan sebuah tugas muliah yang Tuhan pundakan ke setiap kaum perempuan untuk mencukupi kebutuhan hidupnya”.

“Menurut mama Papua, kami bertahan hidup dengan cara berjualan, jika kami tidak bekerja, maka kami tidak layak makan.” ujarnya.“

Melihat realitas bahwasanya, di mana kendaraan mobil roda empat bahkan motor roda dua terjadi peristiwa kemacetan, pasalnya mama-mama sedang berjualan di pinggur jalan.”

Dalam hal ini, Pemerintah Provinsi maupun daerah semestinya teratasi bukan mengabaikan persoalan serius yang  dibungkam ruang Demokrasi bagi kaum Hawa secara misterius bagi mama-mama di Papua. 

Dengan ini, mama-mama Papua, mengatakan, menyiapkan tempat yang layak untuk kami berjualan, “tegasnya.

Selain itu, aktivis mahasiswa, menegaskan, “mama-mama mencari uang membiayai sekolah buat kami anak-anak dengan segala jeri payahnya. 

Sehingga prioritaskas pembangunan pasar untuk mereka berjualan di tempat yang layak bagi mereka”, katanya. 

Bagi mereka tidak ada kata menyerah, antusias dan semangat mereka konsisten, yang kemudian membuat mereka jenuh dan bosan adalah kepanasan matahari terasa menikam saat berjualan di pinggir jalan. 

Di setiap wilayah pelosok di sana mendiami banyak petualang diantaranya; kaum tani, kaum buruh, kaum nelayan dll. Sehingga pemerintah Daerah semestinya memberi perhatian serius kepada masyarakat setempat.

Sebab, kata mama-mama di Papua, bagi kami tidak ada kata mundur dan menyerah walaupun sepnjang hari di pinggir jalan, kami akan terus berjualan.

Terkadang terjadi peristiwa kemacetan karena mama-mama Papua jualan selalu disepanjang lintasan jalan, ulahnya pemerintah. 

Jika pemerintah atasi persoalan Pasar di setiap daerah atau kota, masyarakat tidak mengganggu aktivitasnya. Akan tetapi, pemerintah belum pulih total atas sakit yang mereka alaminya. 

Kami sebagai mama akan konsisten berjualan di pinggir jalanan dan depan toko-toko orang pendatan, walaupun pasar bagi kami belum menyiapkan oleh pemerintah setempat”, ujar mama di Papua. 

Alangkah baiknya, pemerintah dilahirkan regulasi untuk mengatasi persoalan terkait dagang atau pasar jualan bagi mama di Papua agar kendaraan bebas dari peristiwa kemacetan tersebut.

Kami mengikuti dinamikanya, terkadang barang jualan yang di dagang pendatan laris terlalu cepat. Sedangkan jualan mama-mama di Papua terus memarjinalkan atau tak apatis? Padahal makanan mama-mama Papua alamiah dari hasil kerja keringat mereka sendiri. 

Semua ulahnya pemerintah, mengapa? Karena jualan mereka terkena debu akhirnya tidak laku satupun jualan mama-mama di Papua. 

Pemikiran kedangkalan ini membunuh gairah kesemangatan orang Papua untuk berbisnis, berdagang dan berjualan. 

Berdasarkan pemikiran primitif ini, orang Papua tidak akan menjadi tuan di atas tanahnya sendiri, sekalipun Papua tanah pusaka akan kaya kekayaan alam yang berlimpah ruah.

Barang dagang pendatan secara otomatis orang Papua buka mata besar. Padahal belum tahu darimana asal produknya, apakah kadarwarsa atau tidak?! 

Makanan alamiah tradisi orang Papua tak apatis laris kemudian marjinalkan entah sengaja maupun tak sengaja, sungguh mengakitkan hati para kaum terpelajar atas realitas nasib orang Papua ini. 

Kesimpulannya;

Pemerintah daerah musti membuka mata, telinga dan memberi perhatian serius serta memfasilitas pasar bagi mama-mama di Papua, demi progresif untuk komparatif dengan dagangan non Papua.

Mahasiswa jelih melihat fenomena faktual yang sedang hadapi di kalangan masyarakat jelata lebih spesifik mama-mama di Papua seutuhnya.

Kemudian mahasiswa kritisi pemerintah secara rasional agar pemerintah mengambil kebijakan khusus untuk mama-mama di Papua.

Sebab kerja keras dan perjuangan hasil keringat mama-mama di Papua, mencetak anak manusia yang berbobot, berkualitas dan berpotensi yang tinggi. 

“Mama-mama Papua yang hebat, saya secara personal sangat apresiasi dan banggakan dengan hasil keringatnya, sebab jerih paya kalian tidak sia-sia”.

Kasih sayang mama Papua terhadap anak sangat luar biasa. Luar biasanya dalam konteks ruang dan waktu mereka terus berupaya mencari uang untuk melihat anaknya sukses.

Mama kau bagai burung tanpa sayap yang sang khalik ciptakan untuk’ku. Aku kagumi dalam diamku, walau mama memelukku dengan kasih sayangmu.[*]

***

Penulis: Aktivis mahasiswa Papua yang mengenyam pendidikan di Jayapura, Papua. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *