banner 728x250

Kami Manusia Bermartabat Dan Berhak Untuk Merdeka Dan Berdaulat Penuh Di Atas Tanah Leluhur Kami

Avatar photo
banner 120x600

Realitas Politik Ketidakadilan (Ist dok : Pribadi)

Oleh Gembala DR. A.G  Socratez Yoman,MA

ARTIKEL, “Karya ini, saya abadikan dengan bolpen tulang belulang, tintanya air mata dan darah serta penderitaan bangsaku, orang asli Papua di atas TANAH  leluhur kami.”

“Seluruh penderitaan orang asli Papua sejak 19 Desember 1961 dan 1 Mei 1963 sampai sekarang yang ditulis dengan tinta akan terhapus, tapi saya menulis penderitaan bangsaku  ini semua dengan bolpen tulang belulang, tinta air mata dan darah di atas TANAH ini.”

Dalam hal ini, kalau saya tidak menjadi bolpen untuk menulis penderitaan bangsaku, saya cukup menjadi alas penghapus di tangan TUHAN untuk menghapus tetesan air mata  di pipi mereka dan darah dari tubuh mereka.

Dalam keyakinan iman ini, saya  memperjuangkan martabat (dignity) rakyat dan bangsaku West Papua  tidak dengan cara-cara mengemis dan tunduk-tunduk kepada penguasa kolonial moderen Indonesia, karena sejak dulu, kami bangsa yang berdaulat dan terhormat di atas tanah leluhur kami.

Dengan keyakinan dan pijakan iman ini, saya mengajak para pejuang keadilan, perdamaian, hak asasi manusia dan martabat manusia serta kesamaan derajat: JANGAN Anda TAKUT, karena TUHAN berpihak kepada Anda, TUHAN bersama Anda. Anda sahabat abadi Allah. Karena Anda membela kehormatan Allah dan martabat manusia sebagai gambar dan rupa Allah. Berfirmanlah Allah : “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Allah…” (Kejadian 1:26).

Kami berdiri di sini, di atas TANAH leluhur kami, kami hidup bersama rakyat dan bangsa kami, karena itu, Anda semua, terutama penguasa kolonial modern Indonesia, jangan salah menilai kami. Kami hanya suara mereka yang mau berkata benar, jujur dan adil, demi masa depan anak cucu mereka yang lebih baik, aman dan damai di atas tanah leluhur mereka West Papua. Karena kami punya kewajiban moral dan tanggungjawab iman untuk menjadi penyambung lidah umat Tuhan yang tertindas dan terabaikan.

Dari waktu ke waktu dengan pengamatan dan penilaian saya selama ini secara pribadi dan juga sebagai bangsa, bahwa sebagian besar penguasa pemerintah Indonesia yang menduduki dan menjajah rakyat dan bangsaku West Papua, mulut mereka BAU BUSUK karena tukang tipu/pembohong besar, munafik dan hidup berpura-pura dengan berlidah manis yang penuh racun. Penampilan diluarnya gagah dan berbaju mahal, berdasi bagus tetapi hatinya BUSUK, JAHAT dan tidak ada NURANI, terutama dalam menghadapi rakyat dam bangsa West Papua selama 61 tahun sejak tahun 1961. Karena itu, Saya tidak percaya apa yang Anda (penguasa Indonesia) katakan, sebab saya melihat apa yang Anda lakukan setiap hari di atas tanah leluhurku.

Dengan pengaman yang sangat buruk ini, walaupun Indonesia memekarkan 5, 10, 20, sampai 100 Pemekaran Provinsi Boneka Indonesia di Tanahnya Orang Melanesia, CEPAT dan LAMBAT rakyat dan bangsa West Papua PASTI Merdeka dan berdaulat penuh dari penguasa kolonial Indonesia yang berwatak RASISME, fasisme, militerisme dan kriminal. Karena, tetesan darah, cucuran air mata, tulang-belulang dan penderitaan rakyat dan bangsa Papua menjadi KEKUATAN dan sekaligus menjadi MUSUH ABADI dan kejar terus-menerus dalam hidup para penjahat, pembunuh ini. Di sini berlaku hukum TUHAN dan hukum ALAM, yaitu hukum TABUR TUAI. 

“Ingat, hukum TABUR dan TUAI itu akan berlangsung. KARMA itu akan terjadi. Apakah kalian tidak puas? Kita lihat apa yang terjadi?” (Muhammad Rivai Darus, SH, Jurubicara Gubernur Papua, 11 April 2022).

Melihat pemaksaan penguasa dalam pembentukan provinsi-provinsi BONEKA ini, kesan saya, pemekaran provinsi boneka Indonesia di West Papua sebagai wujud atau bukti kepanikan penguasa Indonesia akibat kegagalan diplomasi di Negara-Negara Pasifik, di Dewan Gereja Dunia dan Dewan Gereja Pasifik serta meningkatnya dukungan komunitas internasional persoalan pelanggaran berat HAM dan rasisme di Papua . Jadi, rakyat dan bangsa West Papua dari Sorong- Merauke tidak perlu panik.

Selama bertahun-tahun, seluruh rakyat Indonesia ditipu oleh sebagian besar para Penguasa Indonesia identik dengan penguasa perampok, pembunuh, penipu, kriminal, anti kemanusiaan, musuh kebenaran, anti keadilan dan kedamaian, pembuat hoax, berwatak kriminal, fasis, rasis, paranoid dan lintah ganas pemeras rakyatnya sendiri. Omong Kosong penguasa dan TNI-Polri mengatakan NKRI harga mati. Sebenarya kekayaan sumber daya alam dan emas yang diincar dan dikejar oleh mereka.

Di Tanah West Papua dari Sorong-Merauke, selama 61 tahun sejak 1961-2022, Negara tidak hadir tetapi yang hadir dan diperlihatkan pemerintahan Indonesia yang berkultur militer ini ialah kekerasan, kejahatan, dan kekejaman serta ketidakadilan yang menimbulkan tragedi kemanusiaan dan pelanggaran berat HAM. Kejahatan Negara berjalan telanjang setiap hari di depan mata kita dan ia menjadi seperti pemandangan biasa-biasa saja. Karena itu, suatu kebutuhan mendesak dan penting untuk dibangunnya kesadaran rakyat dan bangsa West Papua dan bangkit untuk mengubah keadaan yang tidak normal ini menjadi situasi normal, sehat, manusiawi dan damai.

Jadi, umpamanya saja, saya menemukan hanya satu kebenaran dari pemerintah Indonesia dalam proses penggabungan West Papua ke dalam wilayah Indonesia melalui pelaksanaan Pepera 1969, maka saya akan mengatakan kepada rakyat Papua, mari kita hormati pemerintah Indonesia. Tetapi, sayang, dalam dokumen laporan hasil Pepera 1969 Annex 1 dan Annex 2, saya tidak menemukan satu kebenaran pun dari di pihak Indonesia. Ditemukan dalam dokumen itu hanya penipuan, kekejaman, kejahatan, ketidakadilan, ketidakbenaran, kekejaman yang dilakukan ABRI (sekarang: TNI-Polri). Maka apapun alasannya, penguasa kolonial Indonesia tidak layak dihormati dalam konteks West Papua, karena Indonesia menduduki dan menjajah bangsa West Papua dengan illegal.

Dan juga, kalau proses penggabungan West Papua ke dalam wilayah Indonesia dengan proses yang benar, adil, jujur dan itu memang benar-benar pilihan dari hati nurani orang tua kami, maka kami tetap hormati jasa para orang tua kami yang terlibat dalam proses Pepera 1969. Tetapi, proses pengintegrasiannya 100% penuh dengan penipuan, kejahatan, kekejaman, intimidasi, darah dan air mata, bahkan masih saja membunuh rakyat kami atas nama NKRI, maka untuk apa kita tunduk, akui dan menghormati pendudukan dan penjajahan Indonesia di Tanah leluhur kami. Lebih baik kita berjuang untuk menegakkan nilai kebenaran dan keadilan demi martabat bangsa kami. Bukan masalah menang dan kalah, tetapi kejahatan dan ketidakadilan kolonial Indonesia yang merendahkan martabat bangsa kami harus dilawan.

Karena bangsa kolonial selalu menulis kebenaran sejarah versi mereka dengan baik dan menonjolkan para pahlawan dan kehebatan mereka. Sesungguhnya semua kebohongan dan semu. Sementara keberanan sejarah bagi bangsa yang diduduki dan dijajah selalu ditulis yang buruk-buruk saja dan bahkan menggelapkan kebenaran sejarah dengan cara membakar semua buku-buku dan sombol-simbol sejarah. Realitas ini yang dialami dan dihadapi rakyat dan bangsa West Papua yang sedang diduduki dan dijajah bangsa kolonial firaun moderen Indonesia.

Akhir dari artikel ini, saya mau sampaikan, bahwa saya tidak membanggakan tentang apa yang saya baktikan dalam era saya saat ini. Karena leluhur, orang tua, kakak-kakak senior yang lebih tua dan orang-orang hebat lain sudah pernah kerjakan, merintisnya dan mewariskannya. Artinya, saya tidak memulai sesuatu yang baru, karena ada yang sudah berbuat dan memulai sebelum saya lahir. Saya hanya mewarisinya sesuai dengan konteks dan realitas dalam hidup saya saat ini. Jadi, jangan merusak dan meremehkan apa yang sudah ditinggalkan sebagai legacy yang berharga dari orang-orang terdahulu.

Dalam memperjuangkan dan mempertahankan martabat kemanusiaan orang asli Papua sebagai sebuah bangsa yang MERDEKA dan BERDAULAT PENUH tapi bukan sebagai sebuah provinsi jajahan, maka keadilan harus diperjuangkan tanpa kompromi. Keadilan tidak pernah diberikan kaum kolonial.Para penguasa kolonial selalu gelisah dan merasa terganggu pada saat kaum tertindas dengan gigih memperjuangkan keadilan. Kaum terabaikan dan tertindas tahu, sadar dan mengerti bahwa KEADILAN adalah syarat mutlak PERDAMAIAN dan KESETARAAN.

Menulis tentang penderitaan rakyat kecil, tak bersuara dan terabaikan itu tugas suci dan mulia. Itu pesan Salib. Itu pesan kubur yang kosong. Itu pesan dan cahaya keadilan dan kedamaian dari kandang Betlehem. Itu pesan di mimbar-mimbar suci. Anda menulis berarti Anda hadir sebagai mata TUHAN, wajah TUHAN, tangan TUHAN dalam dunia realitas hidup manusia. Yesus Kristus Tuhan dan Allah kami dapat menyapa manusia melalui rahim bunda Maria sebagai Manusia Sejati untuk martabat kemanusiaan.

“Tulis semua yang kau ketahui mengenai bangsamu. Tulis semua gejolak perasaanmu tentang bumi sekitarmu. Karena dengan menulis kau belajar bicara.” (Sumber: Mayon Sutrisno: Arus Pusaran Sukarno, Roman Zaman Pergerakan: hal. 201).

Doa dan harapan saya, artikel ini menjadi berkat bagi para pembaca.  Selamat membaca.

Penulis:

  1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua ( PGBWP).
  2. Anggota: Dewan Gereja Papua (WPCC).
  3. Anggota: Konferensi Gereja-Gereja Pasifik (PCC).
  4. Anggota Baptist World Alliance (BWA).

Penyuting : Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *