banner 728x250

Indonesia dan ULMWP Setara Dalam Forum Internasional

Avatar photo
banner 120x600

Anggota ULMWP Setara forum Internasional. (Ist Dok : tpn-pbnews)

(Oleh: Pendeta Dr. Socratez Sofian Yoman)

Penulis adalah Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua

Artikel- Dulu, pemerintah Indonesia selalu bertanya kepada rakyat Papua, ketika rakyat Papua menuntut dialog damai yang setara antara Indonesia dan rakyat Papua untuk mengakhiri konflik kekerasan berkepanjangan dan pelanggaran berat HAM yang berkelanjutan serta pelurusan sejarah status politik Papua ke dalam wilayah Indonesia.

Pertanyaan penguasa Indonesia yang selalu kami dengar seperti ini. Dengan siapa dan kelompok yang mana pemerintah Indonesia dapat berdialog? Karena rakyat Papua banyak kelompok yang berjuang untuk kemerdekaan Papua. Pemerintah Indonesia mempertanyakan ini sebelum terbentuknya United Liberation Movement for West Papua (ULMWP).

Pertanyaan para penguasa Indonesia sudah terjawab dengan lahirnya ULMWP.

ULMWP lahir secara resmi pada 6 Desember 2014 di Port Villa, Vanuatu. ULMWP menjadi payung politik resmi bangsa West Papua yang mempersatukan WPNCL, NRFPB dan PNWP.

Iklanabout:blankLAPORKAN IKLAN INI

Penyatuan ini secara resmi ditandatangani oleh Dr. Rex Rumakiek dari West Papua National Coalition for Liberation (WPNCL), Edison Waromi dari perwakilan Negara Republik Federal Papua Barat (NRFPB), dan Bucthar Tabuni dari Parlemen Nasional West Papua (PNWP).

Dalam pertemuan ini secara demokratis memilih lima orang pemimpin untuk menjalankan mandat bangsa melalui rumah besar yang bernama ULMWP, yakni, Octovianus Mote sebaga Sekertaris Jenderal, Benny Wenda sebagai Juru Bicara, dan tiga orang anggota, yakni, Dr. Jacob Rumbiak, Dr. Rex Rumakiek, dan Ny. Leonie Tanggahma.

Yang hadir menyaksikan terbentuknya lembaga politik resmi bangsa West Papua, yaitu Mantan Perdana Menteri Vanuatu, Barack Sope, Perdana Menteri Vanuatu, Joe Natuman, dan sejumlah tokoh adat masyarakat Vanuatu ikut berpartisipasi dan menyaksikan penandatangan deklarasi Saralana.

Sekarang ULMWP dipimpin oleh Benny Wenda sebagai Ketua, Oktovianus Mote sebagai wakil Ketua, Jurubicara Jacob Rumbiak, dan anggota Rex Rumakiek dan Paula Makabori.

ULMWP lahir dengan dasar, yaitu rakyat dan bangsa West Papua berinisiatif untuk bersatu dalam satu payung sebagai wadah politik. Kedua atas desakan atau permintaan Negara-Negara Anggota MSG, komunitas Internasional, tentu saja permintaan Indonesia supaya rakyat Papua harus satu suara dalam satu wadah resmi.

ULMWP diterima sebagai anggota MSG dengan status peninjau (Observer) di Salomon Islands pada 2015.

ULMWP didukung resmi Komunike dari Negara-Negara Forum Kepulauan Pasifik (PIF) pada 16 Agustus 2019.

ULMWP juga didukung oleh 79 Negara anggota African, Carabian dan Pasific (ACP) di Nairobi, Republik Kenya pada 9-10 Desember 2019.

ULMWP didukung resmi oleh empat Gereja di Papua, yaitu: GKI, Kingmi, GIDI, Baptis pada 17 Februari 2019 di Kantor Sinode GKI. Empat Gereja ini, kini telah membentuk Dewan Gereja Papua (West Papua Council Church) yang beraviliasi dengan Dewan Gereja Pasifik (PCC).

ULMWP juga didukung resmi oleh Dewan Gereja Pasifik (PCC) dan Dewan Gereja Dunia (WCC) berdasarkan hasil kunjungan Dewan Gereja Dunia (WCC) pada 17-19 Februari 2019 di West Papua.

ULMWP juga didukung oleh para Uskup Negara-Negara Pasific untuk penyelesaian konflik Papua dengan Indonesia melalui dialog damai dan bermartabat.

Yang jelas dan pasti: ULMWP punya kedudukan setara dan daya tawar dengan Indonesia. Contoh kecil. Tapi itu sangat berdampak besar, yaitu dalam Forum MSG, pemerintah Indonesia dan ULMWP duduk setara sebagai dua bangsa yang sedang bertikai.

ULMWP mempunyai dukungan dari Negara-Negara Merdeka atau Negara berdaulat dan juga Dewan Gereja Papua, Dewan Gereja Pasifik (PCC), Para Uskup Keuskupan Negara-Negara Pasifik, Dewan Gereja Dunia (WCC).

Pemerintah Indonesia tidak bisa menghindar dari United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), karena ULMWP didukung oleh Negara-negara merdeka dan berdaulat dan juga anggota resmi Perserikatan Bangsa-Bamgsa (PBB).

Sudah waktunya penderitaan, tetesan air mata dan cucuran darah rakyat Papua harus diakhiri dengan cara-cara damai, bermartabat dan manusiawi. Dengan jalan
INDONESIA dengan ULMWP harus duduk satu meja dimediasi pihak ketiga yang netral di tempat netral. Langkah awal sudah positif yaitu INDONESIA-ULMWP sudah duduk setara di forum MSG. INDONESIA-ULMWP berundinglah dan berbicaralah di rumah MSG untuk win-win solution.

Akhir dari artikel ini, saya mau sampaikan kepada para pembaca bahwa doa dan harapan saya, para pembaca yang mulia dan terhormat dapat memahami dan menerima dari hati Anda artikel singkat (*)

Admin : Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *