banner 728x250

Hanya Ingin Mencari Pujian Dari Retorika Di Permukaan Umum Mencari Kehormatan

Avatar photo
banner 120x600



Oleh : Simion Lelaki_Selera



TOTIO,THE TPN-PBNEWS.COM–Apa yang kita kejar: gedung gereja yang mewah, megah, dan indah tanpa memperhatikan nasib dan masa depan manusianya, sejauh mengorbankan banyak pikiran, keringat, uang, dan material ini tidak jauh beda dengan semangat dasar kaum sofis.

Hanya ingin mencari pujian dari retorika di permukaan umum, mencari kehormatan dengan pengetahuan sesat di tempat keramaian dan seperti kita merencanakan, dan membangun infrastruktur fisik yang tidak bernyawa di permukaan tanah. Lalu tentu saja banyak menarik perhatian orang, seolah-olah iman diukur dari situ.

Tetapi tidak mampu menyentuh dan menyelesaikan masalah kronis kehidupan dan keselamatan manusia yang menjadi ukuran utama dan penting dalam segala sesuatu.

Kita tidak sadar dari pengalaman di dunia lain. Athena hancur karena warisan dewa Aletheia yang “diilahikan” Parmenides.

Kita akan hancur dan mati tertindas dengan dewa-dewa gedung itu. Karena menjadi gedung yang megah, mewah dan indah adalah sebagai ukuran pembangunan, kemajuan, kesejahteraan dan kedamaian umat (menjadi musuh terbesar Protagoras) di tanah Papua.

Kita tidak akan pernah ketemu Tuhan dengan membangun menara setinggi langit atau geraja yang seperti kita lihat sekarang–seperti Babel. Sebab itu penuh dengan kepentingan, ambisi, kekuasaan, dan sarat dengan upaya untuk hanya mencari pujian, kehormatan dan menciptakan “ilahi” di muka diri.

Tuhan membenci itu. Pada waktunya akan meruntuhkan. Tahu dari mana: sederhana saja. Coba dengarkan suara Tuhan dari kerajaan sorga lewat mereka yang lemah, miskin, terpinggirkan, tersingkirkan, teraniaya dan tertindas.

Noth!

Gambar: umat katolik di paroki “Gembala Baik” Pugima. Mereka, setelah bangun kapela keil yang sederhana sedang kumpul dan merayakan acara peresmian gedung gereja baru dengan menggunakan busana. Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM, uskup Jayapura pada 1993 pernah meresmikan gereja ini.

Saya senang, melihat foto-foto bagaimana umat katolik pribumi setempat memuji Tuhan dengan bahasa daerah dan dengan busana tradisional mereka. Sungguh indah sekali. Tapi suasana ini semakin kesini semakin hilang–mengikuti jamannya.(vullmembers Alampa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *