Breaking News
banner 728x250

Forum Gereja Papua: Tidak Ada Masa Depan Papua dalam Sistem RI

Avatar photo
banner 120x600
banner 468x60

Dari kiri: Ketua Umum Badan Pelayan Pusat Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua, Pdt Socratez Sofyan Yoman S.Th, MA, Presiden Gereja Injili di Indonesia (GIDI), Pdt Dorman Wandibo, S.Th, Ketua Sinode Kingmi di Tanah Papua, Pdt Dr Benny Giay.

banner 325x300

TOTIYO,THE.TPNPBNEWS.COM – Menyusul berbagai acara mencekam di Papua akhir-akhir ini, penembakan, kematian, pembacokan dan kejadian Alkitab, gereja-gereja di Papua yang tergabung dalam Forum Kerja Oikumenis Gereja-gereja Papua, selesai Surat Gembala yang kejutan. Surat itu berisi kekecewaan yang sangat mendalam kepada pemerintah dananggaran yang sangat serius.

Surat Gembala yang ditanda-tangani oleh Pdt. Dorman Wandikmbo S.Th, Ketua Sinode GIDI di Tanah Papua, Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA, Ketua Badan Pelayanan Persekutuan Gereja Baptis Papua dan Pdt Dr. Benny Giay, Ketua Sinode KINGMI di Tanah Papua, hari ini (29/05 ) Antara lain percikan karena bahasa politik yang “bicara lain mainnya.” Oleh karena itu, Surat Gembala yang disampaikan kepada jemaat-jemaat tersebut adalah “tidak ada masa depan untuk bangsa Papua dalam sistem Indonesia. Papua harus bangun sendiri; Dengan belajar dari Persipura. Kita, Papua bikin agenda sendiri. “

The. TPN-PBNews.com menerima surat kabar Surat Gembala tersebut dari Socratez Sofyan Yoman, yang isinnya selengkapnya adalah sebagai berikut.

Minggu ini kami (seperti minggu, bulan dan tahun-tahun sebelumnya) jemaat-jemaat telah mengalami duka, kematian, pengejaran, penembakan dan pembacokan; Juga stigma di mana Lembaga Negara (yang lemah itu) selalu keluar dengan bahasa politik “bicara lain main”. Karena itu kami hari ini keluarkan “Surat Gembala” ini.

Bagian pertama, surat gembala itu kami tunjukkan para pihak yang sedang berdinamika dan bermain di berbagai tingkat sampai di Papua yang secara otomatis mempengaruhi kehidupan masyarakat sipil di Papua.

Bagian kedua dan terakhir kami menunjukkan bagaimana menghadapi negara mempertontonkan dalam penyelesaian kasus-kasus kekerasan. Tema rasisme ini juga kami lakukan lagi dalam batin, di mana kami menunjukkan wajah rasisme yang terlembagakan dalam lembaga Negara TNI POLRI yang berjuang untuk menggiring kita kita semua (untuk kepentingan umum) untuk mendukung TNI POLRI berangus Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan orang Gunung .

Bagian ketiga kami berefleksi pengalaman aktif perjuangan dan karya gereja yang telah membentuk kita pada masa lalu yang terus membayang-bayangi kita.

Kelima, kami nyatakan pendapat dan posisi sebagai Gereja tentang Organisasi Papua Merdeka (OPM), KNPB atau United Liberaton Movement for West Papua (ULMWP). Ini pernah kami sampaikan tanggal 16 Desember 2011, yaitu OPM dan KNPB adalah bayi (nasionalisme) yang lahir sebagai hasil dari perkawinan paksa (Pepera 1969) antara Indonesia dan Papua yang harus jaga. Seperti halnya Soekarno dan Moh Hatta yang menurut Indonesia adalah Nasionalisme, kita juga kami. Kami memposisikan OPM, ULMWP sebagai pemain bendera Nasionalisme Papua; Yang selama ini dicap separatis, seperti dulu dulu orang Belanda yang mengirim Soekarno ke penjara dengan tuduhan separatis.

Keenam, kami sampaikan kepada jemaat-jemaat kami berdasarkan pengalaman dan kejadian yang kami alami beberapa hari terakhir ini, “tidak ada masa depan untuk bangsa Papua dalan sistemnya indonesia. Papua harus bangun sendiri; Dengan belajar dari Persipura. Kita, Papua bikin agenda sendiri. Belajar dari Persipura dengan disiplin, latihan terus-terus, fokus dan terarah, tepat waktu ikut jadwal yang selalu, semangat yang menyala-nyala. Tidak ada bangsa lain yang akan datang tolong. Orang Papua harus tolong sendiri dengan membuat komitmen dan untuk priroritaskan pendidikan dalam segala bidang. Pendidikan, Pendidikan. Jaga komitmen itu ‘untuk sekolahkan anak-anak dan perj muat sampai akhir.

Kami mengajak seluruh jemaat “Mari kita kubur budaya menunggu kebaikan datang dari langit; Atau bangsa itu atau pihak ini akan datang menolong “. Kami sampaikan “kita sedang menghadapi tembok budaya dan ideologis dan rasisme”. Kita sedang hadapi ideologi dan kebijakan pembangunan “bias pendatang”.

Kami ucapkan Selamat berjuang. Selamat berjuang menyajikan teolog-teolog dan ahli hukum, ekonom Papua masa depan “dengan mata tertuju kepada Kristus” (Ibrani 12: 7). Selamat berjuang.

Jayapura, Senin, 29 Mei 2017,
Pdt. Dorman Wandikmbo S.Th, Ketua Sinode GIDI di Tanah Papua,
Dr. Socratez Sofyan Yoman, MA, Ketua Badan Pelayanan Persekutuan Gereja-gereja Baptis Papua,
Pdt Dr. Benny Giay, Ketua Sinode KINGMI di Tanah Papua

Editor : Andy

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *