banner 728x250

Enam Kekuatan  Bangsa PAPUA Yang Dihancurkan Oleh Bangsa Kolonial Firaun Modern Indonesia Yang  Sedang Menduduki Dan Menjajah Bangsa PAPUA BARAT

Avatar photo
banner 120x600

(Ist Dok : Gembala DR. A.G. Socratez Yoman)

Artikel, thetpn-pbnews com- “Orang asli Papua hidup dalam kesadaran sejarah palsu sejak 1 Desember 1961 sampai sekarang.”

Oleh Gembala DR. A.G. Socratez Yoman

Ada enam pilar dan kekuatan yang ditakuti bangsa kolonial atau penjajah firaun modern Indonesia yang menduduki dan menindas rakyat dan bangsa Papua, yaitu;

1.  Kalau rakyat dan bangsa Papua Barat ada KESADARAN;

  1. Kalau rakyat dan bangsa Papua Barat  ada PENDIDIKAN yang baik;
  2. Kalau rakyat dan bangsa Papua Barat belajar, mengerti dan memegang
    SEJARAH bangsanya yang benar;
  3. Kalau rakyat dan bangsa Papua Barat ada  SOLIDARITAS yang kuat antar orang asli Papua dan juga orang-orang luar Papua di Papua dan luar Papua.
  4. Kalau rakyat dan bangsa Papua Barat ada  PERSATUAN dari berbagai suku di TANAH Papua dan juga saudara-saudara dari luar Papua.
  5. Kalau rakyat dan bangsa Papua Barat masih memelihara nilai-nilai KEBUDAYAAN asli, contohnya: BAHASA DAERAH.

INGAT BAIK-BAIK,  rakyat dan bangsa Papua Barat jangan  sibuk dengan mengurus atau mengganggu agama orang lain, itu sama saja kita bagian dari orang-orang yang menciptakan kekacauan dunia dan merusak SOLIDARITAS. Sebaiknya, rakyat dan bangsa Papua Barat harus sibuk membangun iman kita masing-masing, supaya kita menjadi seperti lilin yang bercahaya untuk kedamaian dunia, kedamaian Indonesia dan ada kedamaian permanen di Papua. Orang Asli Papua berkewajiban menjadi penjaga dan pelindung saudara-saudara Muslim, Hindu, Budha, Konghucu dan Atheis dan sebaliknya. Kita boleh berbeda dalam keyakinan iman dan pandangan ideologi, tapi kita tetap  bersaudara dalam martabat kemanusiaan dan kesetaraan. Karena kita berjuang bukan melawan agama, bukan melawan saudara-saudara pendatang, kita berjuang karena kami mempunyai hak politik untuk merdeka dan berdaulat di atas Tanah leluhur kami. Kami TAHU, siapa musuh atau lawan kami dan siapa kawan atau teman kami.

INGAT!  BUKA MATAMU!  BUKA PIKIRANMU, BUKA HATIMU, BUKA TELINGAMU.  Hai, orang-orang asli Papua, Anda sedang musnah,  Anda sedang hancur, Anda sedang mati pelan-pelan, Anda sudah dibuat hidup dalam KESADARAN  SEJARAH PALSU DAN SEMU;  PENDIDIKAN porakporanda, SEJARAH bangsamu dihancurkan, dimusnahkan dengan dibakar, SOLIDARITAS dan PERSATUAN dihancurkan, dan KEBUDAYAAN dihilangkan dan dihancurkan tanpa bekas.

Bangsa  kolonial modern Indonesia selama 61 tahun sejak 1 Desember 1961 sampai sekarang membangun kesadaran palsu dan semu diantara orang asli Papua. Orang asli Papua juga dilumpuhkan dan dihancurkan identitas ke-Papua-an dan dijadikan ke-Indonesia-an palsu.

Karena kesadaran palsu dan identitas yang dilumpuhkan dan dihancurkan, maka bangsa kolonial modern firaun Indonesia dengan mudah menduduki, menjajah, menindas, memperbudak, membunuh dan membinasakan atau proses genosida penduduk asli Papua dan perampokkan Tanah dan sumber daya alam dari waktu ke waktu secara sistematis, terstruktur, terprogram, meluas,masif dan terpadu.

Dari enam kekuatan yang dilumpuhkan dan dihancurkan, saya mengangkat beberapa fakta sebagai contoh untuk dipelajari, diketahui dan dimengerti oleh para pembaca yang mulia dan terhormat.

Di depan mata kita sekarang ialah Daerah Otonomi Baru (DOB) BONEKA Indonesia yang miskin administrasi dan pemaksaan dengan kepentingan politik dan militer untuk perampokkan sumber daya alam di Tanah Papua dan menyingkirkan atau memusnahkan penduduk asli Papua.

Ada dikotomi orang Papua pantai dan orang Papua pegunungan yang dikemas dan dipelihara dan dirawat baik oleh para penguasa kolonial firaun modern Indonesia. Bangsa kolonial sudah membuat pengelompokkan: Papua Barat, Papua, Papua Selatan, Papua Pegunungan, Papua Selatan.

Penguasa kolonial firaun modern Indonesia melarang buku-buku tentang sejarah bangsa Papua, sebagai berikut:

  1. Pembunuhan Theys Eluay: Kematian HAM di Papua ( Dr. Benny Giay, 2005).
  2. Pemusnahan Etnis Melanesia: Memecah Kebisuan Sejarah Kekerasan di Papua Barat (Socrarez S.Yoman, 2007).
  3. Tenggelamnya Rumpun Melanesia (Sendius Wonda, 2007).
  4. Jeritan Bangsa ( Sendius Wonda, 2009).

Sedangkan  Pastor Frans Lieshout, OFM memberitahukan kepada kita semua perilaku kejam dan barbar penguasa Indonesia dan TNI membakar buku-buku sejarah dan dokumen-dokumen penting tentang Papua.

“Di mana-mana ada kayu api unggun: buku-buku dan dokumen-dokumen arsip Belanda di bakar.” (Gembala Dan Guru Bagi Papua, 2020: hal. 593).

Kejahatan kolonial modern Indonesia terhadap orang asli Papua yang paling kejam, biadab, brutal, dan barbar serta primitif ialah membakar buku-buku sejarah dan dokumen-dokumen penting yang dimiliki penduduk asli Papua. Kekejaman dan kebiadaban penguasa kolonial Indonesia disemangati dari rasisme, fasisme dan militerisme. Kekejaman dan kolonialisme primitif ini wajar karena Indonesia adalah pemerintahan berkultur militer.

Menurut Amiruddin al Rahab: “Papua berintegrasi dengan Indonesia dengan punggungnya pemerintahan militer.” (Sumber: Heboh Papua Perang Rahasia, Trauma Dan Separatisme, 2010: hal. 42).

Dewan Gereja Papua (WPCC) pada 5 Juli 2020 menyatakan: “Begitu mendapat tempat di Papua (setelah UNTEA tanggal 1 Mei 1963), para elit Indonesia yang menampakkan kekuatannya dan membakar semua buku, dokumen-dokumen, jurnal dan semua tulisan tentang Sejarah, etnografi, penduduk, pemerintahan; semua dibakar di depan orang banyak di halaman Kantor DPRP sekarang di Jayapura” (Lihat, Acub Zainal dalam memoarnya: I Love the Army).

“Pembakaran besar-besaran tentang semua buku-buku teks dari sekolah, sejarah dan semua simbol-simbol nasionalisme Papua di Taman Imbi yang dilakukan ABRI (sekarang:TNI) dipimpin oleh Menteri Kebudayaan Indonesia, Mrs.Rusilah Sardjono.”

Pastor Frans Leishout,OFM melayani di Papua selama 56 tahun sejak tiba di Papua pada 18 April 1969 dan kembali ke Belanda pada 28 Oktober 2019. Pastor Frans dalam surat kabar Belanda De Volkskrant ( Koran Rakyat) diterbitkan pada 10 Januari 2020, menyampaikan pengalamannya di Tanah Papua.

” Saya sempat ikut salah satu penerbangan KLM yang terakhir ke Hollandia, dan pada tanggal 1 Mei 1963 datanglah orang Indonesia. Mereka menimbulkan kesan segerombolan perampok. Tentara yang telah diutus merupakan kelompok yang cukup mengerikan. Seolah-olah di Jakarta mereka begitu saja dipungut dari pinggir jalan. Mungkin benar-benar demikian.”

“Saat itu saya sendiri melihat amukan mereka. Menjarah barang-barang bukan hanya di toko-toko, tetapi juga di rumah-rumah sakit. Macam-macam barang diambil dan dikirim dengan kapal itu ke Jakarta. Di mana-mana ada kayu api unggun: buku-buku dan dokumen-dokumen arsip Belanda di bakar.” (Gembala Dan Guru Bagi Papua, 2020: hal. 593).

Fakta lain ialah pada bulan April 1963, Adolof Henesby Kepala Sekolah salah satu Sekolah Kristen di Jayapura ditangkap oleh pasukan tentara Indonesia. Sekolahnya digebrek dan cari simbol-simbol nasional Papua, bendera-bendera, buku-buku, kartu-kartu, sesuatu yang berhubungan dengan budaya orang-orang Papua diambil. Adolof Henesby dibawa ke asrama tentara Indonesia dan diinterogasi tentang mengapa dia masih memelihara dan menyimpan lambang-lambang Papua” (TAPOL, Buletin No.53, September 1982).

Presiden Republik Indonesia, Ir. Sukarno mengeluarkan Surat Larangan pada Mei Nomor 8 Tahun 1963.

“Melarang/menghalangi atas bangkitnya cabang-cabang Partai Baru di Irian Barat. Di daerah Irian Barat dilarang kegiatan politik dalam bentuk rapat umum, demonstrasi-demonstrasi, percetakan, publikasi, pengumuman-pengumuman, penyebaran, perdagangan atau artikel, pemeran umum, gambaran-gambaran atau foto-foto tanpa ijin pertama dari gubernur atau pejabat resmi yang ditunjuk oleh Presiden.”

Rakyat dan bangsa West Papua tidak tahu apa itu Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya? Rakyat dan bangsa West Papua juga tidak tahu Pancasila, 17 Agustus 1945 dan bendera merah putih. Rakyat dan bangsa West Papua tidak tahu nama-nama pahlawan seperti Diponegoro dan lain-lain.

Pertanyaan yang dipertanyakan dalam tulisan ini ialah mengapa sejarah Belanda di West Papua dan Sejarah bangsa West Papua tidak pernah diajarkan dari Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi di West Papua?  Rakyat dan bangsa West Papua sejak 1 Mei 1963 sampai tahun 2021 ini hidup dan hafal serta belajar sejarah bangsa kolonial Indonesia.

Mari, kita sadar, bangkit, bersatu dan lawan  KESADARAN PALSU,kejahatan kemanusiaan dan ketidakadilan, rasisme, fasisme, dan militerisme, kapitalsime, kolonialisme Indonesia yang berlangsung secara konstitusional, sistematis, terstruktur, masif dan kolektif di Tanah West Papua dan berdampak sangat buruk terhadap keberlangsungan kehidupan rakyat dan bangsa West Papua.

Doa dan harapan penulis, artikel pendek ini menjadi berkat. Waa…Waa…Wa….

Ita Wakhu Purom, 22 Juli 2022

Penulis:

  1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua (PGBWP).
  2. Anggota: Dewan Gereja Papua (WPCC).
  3. Amggota: Konferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC).
  4. Anggota Baptist World Alliance (BWA).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *