banner 728x250

CERITA ANAK-ANAK PEJUANG TPN-PB KEMERDEKAAN PAPUA BARAT

Avatar photo
banner 120x600

TOTIO, THE TPN-PBNEWS.COM–“Dari timur ke timur”, ungkapan yang cukup menggambarkan perjuangan anak-anak anggota Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) dan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang memilih untuk melanjutkan perjuangan orang tuanya.  Bagi mereka, keinginan untuk membebaskan Papua selalu ada.  Begitu pula dengan anak-anak korban pelanggaran HAM di Papua.

Demianus Magai Yogi Alias Rimba Ribut , putra Tadeus Yogi, anggota TPNPB di Kabupaten Paniai Mepagoo, memilih mengikuti jejak ayahnya untuk mengangkat senjata.  Ia kini menjadi kombatan TPNPB karena menyaksikan keluarganya menjadi korban kekerasan oleh Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan polisi.

“Ayah saya, Tadeus Magai Yogi, memimpin gerakan kemerdekaan Papua sejak awal 1970-an, hingga menghembuskan nafas terakhir pada 9 Januari 2009,” kata Demianus.  “Hidup yang aman dan damai tidak mungkin bagi kami anak-anak prajurit TPNPB,” tambahnya.  Dia menerimanya sebagai konsekuensi dari perjuangan orang tuanya.

“Hidup kami tidak lepas dari teror dan intimidasi terhadap Tadeus Yogi, istrinya, dan anak-anaknya.  Bahkan Tadeus Yogi meninggal karena diracun.  Sementara ibu saya meninggal karena sakit, polisi sering mengejarnya, tentu saja dia lelah dan kesehatannya memburuk karena itu, ”kata Demianus.

Bahkan setelah ayahnya meninggal, Demianus mengatakan bahwa dia, saudara-saudaranya, dan saudara perempuannya terus mengalami intimidasi, teror, dan menjadi sasaran aparat keamanan.  Tujuh saudara kandungnya tewas dalam konflik panjang yang terjadi di Paniai mepago .

“Kristianus Yogi ditembak oleh Tim Kasuari di Ugapuga pada tahun 1997. Paul Yogi meninggal di Markas TPNPB Eduda pada tahun 2002. Debora Yogi meninggal di Markas Eduda pada tahun 2005. Salmon Yogi ditembak oleh TNI/Polri di Mabes Eduda pada tahun 2013.  Leo Yogi ditembak TNI/Polri di Nabire tahun 2015. Antonius Yogi dibius TNI/Polri di sekitar Ugi, Kabupaten Paniai Timur, tahun 2017. Yosina Yogi ditembak TNI/Polri di Pugo, Paniai,” ujarnya  .

Demianus mengatakan bahwa orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan saudara-saudaranya tidak pernah diadili dan dihukum, seperti halnya para pelaku pelanggaran hak asasi manusia di Papua tidak pernah diadili dan dihukum.  “Tidak hanya kami, hampir semua anak OPM selalu mendapatkan perlakuan seperti ini.  Entah mereka disiksa, atau dibunuh,” katanya.

Demianus mengatakan pemerintah Indonesia terus menunjukkan karakter kolonial dan tidak pernah menegakkan hukum yang mereka buat sendiri.  “Tidak akan pernah ada keadilan bagi kami, untuk semua penderitaan yang kami alami,” katanya.

Berbeda dengan Demianus, Jimy Hilsom Hiluka—putra mantan terpidana politik Linus Hiluka, yang dinyatakan bersalah terlibat dalam perampokan gudang senjata Kodim 1702/Jayawijaya di Wamena pada 3 April 2003—memilih untuk tidak angkat senjata.  .  Namun, ia tak memungkiri bahwa ia pernah memimpikan Papua merdeka.

Jimy berusia 16 tahun saat menyaksikan ayahnya ditangkap aparat keamanan.  Dia juga melihat kakeknya ditembak mati oleh aparat keamanan.  “Saya menyaksikan pasukan keamanan menangkap ayah saya dan menembak kakek saya.  Saat itu, ayah saya tidak lari ke hutan dan ditangkap di rumah kami di Kecamatan Muliama, Kabupaten Jayawijaya pada 27 Mei 2003,” katanya.

Setelah Linus Hiluka ditangkap, Jimy dan saudara-saudaranya kehilangan sosok ayah.  Jimy kecewa karena pemerintah mengabaikan mereka dan tidak memenuhi hak-hak dasar mereka sebagai korban konflik bersenjata di Papua.  “Ketika ayah saya ditangkap, saya merasa sedih dan kecewa dengan pemerintah Indonesia.  Siapa yang akan menjaga kita?  Akan seperti apa masa depan kita?  Tapi insya Allah kita bisa tamat kuliah,” ujarnya.

Jimy mengatakan, seharusnya pemerintah memperhatikan anak-anak tapol, serta keluarga korban pelanggaran HAM dan pembunuhan di luar proses hukum oleh aparat keamanan.  Menurut Jimy, pemerintah bahkan tidak melihat anak-anak prajurit TPNPB sebagai warga negara dengan hak-hak dasar yang harus dijamin dan dipenuhi oleh negara.  Padahal, pemerintah tidak pernah memberikan restitusi, rehabilitasi, atau trauma healing kepada anak-anak TPNPB.

“Pemerintah telah mengambil nyawa, mengamputasi hak asuh orang tua atas anak-anak mereka.  Meski orang tuanya ditahan, hak-hak korban tetap harus dipenuhi.  Jika ada pembiaran seperti yang saya dan saudara-saudara saya alami, jika anak-anak korban pelanggaran HAM ditelantarkan oleh Negara, itu hanya akan menjadi bumerang bagi Indonesia,” ujarnya.

Jimy mengatakan, pemerintah Indonesia seolah memandang anak-anak prajurit TPNPB atau tokoh OPM sebagai musuh.  “Namun sebagai anak mantan tapol dan pimpinan OPM, saya menyadari bahwa ini adalah konsekuensi yang harus diterima.  Saya tidak punya pilihan selain melanjutkan jalan hidup ini,” katanya.

Pewarta : vullmembers Alampa
Editor     : Jeko mambrasa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *