banner 728x250

BAGAIMANA NASIB ORANG-ORANG PENDATANG DARI INDONESIA SETELAH PAPUA BARAT MERAIH PENGAKUAN  KEMERDEKAAN 1 DESEMBER 1961?

Avatar photo
banner 120x600

Gembala DR. A.G.Socratez Yoman,MA

Artikel, “Bubarkan negara buatan Belanda di Irian Barat.” (Ir. Soekarno, Yogjakarta, 19 Desember 1961).

Oleh Gembala DR. A.G.Socratez Yoman,MA

Pada 9 Oktober 2018, saya bertemu dua teman dan kami bertiga duduk dan berdiskusi kecil. Dari tiga orang ini, satu orang pendatang (orang Melayu Indonesia) dan dua orang dari Papua.

Teman orang Indonesia ini sudah lama di Papua dan dia lebih banyak bergaul dengan orang Papua dari pegunungan. Dia setidaknya tahu bahwa saya (bahasa  orang-orang Lani). Dia bertanya kepada saya.

“Bapak Gembala, bagaimana nasib orang-orang pendatang seperti saya ini pada saat bangsa West Papua meraih kemerdekaan?”

Menurut saya pertanyaan ini kunci dan sangat penting. Karena saya telah mendengar dan mendapat informasi tidak benar yang dikembangkan orang-orang yang tidak bertanggungjawab baik orang Papua maupun orang pendatang Indonesia.

Contohnya: Orang pendatang dari Indonesia akan diusir pulang ke Negara mereka pada saat bangsa West Papua meraih kemerdekaan dari pendudukkan dan kolonialisme penguasa Indonesia.

Saya menyampaikan, rakyat dan bangsa Papua Barat berjuang bukan untuk mengusir orang-orang pendatang dari Indonesia yang datang, berada, hidup, berkarya dan mencari nafkah hidup di TANAH leluhur kami. Pendapat itu sangat perlawanan dengan misi, spirit, cita-cita, doa dan harapan dalam perjuangan rakyat dan bangsa Papua Barat. Pemikiran konyol seperti itu tidak ada tempat dan juga tidak ada ruang di hati nurani dan pikiran rakyat dan bangsa Papua Barat.

Contohnya: Orang-orang pendatang dari Indonesia yang ada di TANAH Papua di pesisir pantai dan pegunungan yang beranak-pinang dan beranak-cucu tidak dan belum pernah diganggu. Hidup aman-aman saja, hidup damai dan harmonis, hidup semua baik-baik saja.

Yang lebih rawan adalah orang-orang Indonesia yang didatangkan sebagai program transmigrasi dengan tujuan yang paling kejam dan jahat, yaitu untuk menyingkirkan dan memusnahkan orang asli Papua dari TANAH leluhur. Tapi, orang-orang ini hidup baik-baik dan aman-aman saja. Karena di sana juga ada pos TNI dan Polri untuk linndungi orang-orang Indonesia.

Tujuan suci dan mulia perjuangan rakyat dan bangsa Papua Barat ialah untuk kemerdekaan dan kedaulatan bangsa Papua Barat. Yang dilawan dan dianggap musuh oleh rakyat dan bangsa Papua Barat sebagai berikut:

  1. Rakyat dan bangsa Papua Barat MELAWAN DAN MENOLAK Kolonialisme, imperialisme, rasisme, fasisme, militerisme, kapitalisme, ketidakadilan, pelanggaran HAM berat, genocide, marginalisasi;
  2. Rakyat dan bangsa Papua Barat MELAWAN DAN MENOLAK Pembunuhan, penculikan, penghilangan Orang Asli Papua atas nama keamanan nasional atau kepentingan NKRI.
  3. Rakyat dan bangsa Papua Barat MELAWAN DAN MENOLAK kejahatan, perampokkan, pencurian, penjarahan, perusakkan hutan dan gunung,  pencemaran air, dominasi dan kejahatan-kejahatan lainnya yang dilakukan penguasa Indonesia.
  4. Rakyat dan bangsa Papua Barat MELAWAN DAN MENOLAK Stigma, label dan mitos-mitos: separatis, makar, opm, kkb, dan teroris. Semua label dan mitos ini diproduksi oleh penguasa Indonesia dan milik mereka dan dirawat dan dipakai oleh mereka sendiri, yaitu penguasa kolonial Indonesia sebagai alat pembenaran (justification) untuk menekan dan menindas dan membunuh atau memusnahkan Penduduk Orang Asli Papua.
  5. Rakyat dan bangsa Papua Barat MELAWAN DAN MENOLAK Maklumat Trikora 19 Desember 1961, Perjanjian New York 15 Agustus 1962, Perjanjian Roma 30 September 1962, 1 Mei 1963, Pepera 1969, Otsus Jilid 1, Otsus Jilid 2 dan DOB Boneka Indonesia.

Jadi, yang JELAS dan PASTI, orang-orang pendatang Indonesia yang ada di TANAH Papua akan memilih berdasarkan hati nurani mereka sendiri, apakah mau tinggal dan hidup di Papua Barat dan menjadi warga negara Papua atau memilih pulang ke negaranya, yaitu Indonesia.  Kami sebagai bangsa dan sebagai manusia, tidak memaksa rakyat Indonesia yang ada di TANAH Papua. Mereka punya hak politik dan hak hidup dan mereka harus putuskan sendiri dan tidak ada yang memaksa. Menurut saya orang-orang Indonesia yang ada di TANAH Papua juga aset bangsa dan negara Papua Barat setelah bangsa ini berdiri sendiri.

Orang Asli Papua berhak untuk merdeka dan bedaulat.  Perjuangan untuk merdeka atau kemerdekaan itu tidak dengan cara mengemis atau meminta belas kasihan kepada bangsa kolonial modern firaun Indonesia. Orang Asli Papua bukan bangsa pengemis, dan bukan juga bangsa miskin, karena  sejak leluhur dan nenek moyang OAP kaya dan berdaulat.  Orang Asli Papua tiga bentuk kemerdekaan yang hakiki dan fundamental, yaitu:

  1. Orang Asli Papua sejak leluhur dan nenek moyang sebagai bangsa merdeka, berdaulat dan otonom, dan tidak pernah diatur, dan dipimpin dari bangsa-bangsa asing.

Dari 250 suku, Orang Asli Papua, masing-masing ada TANAH atau dusun, ada sejarah garis keturunan dengan marga masing-masing, ada bahasa, ada nilai-nilai peradaban, ada pemimpin, buat honai, buat pagar, buat kebun, buat perahu, ada peraturan, ada ketertiban.

Seperti Pastor Frans Lieshout, OFM mengakui:

“Saya sendiripun belajar banyak dari manusia Balim yang begitu manusiawi. Saya masih mengingat masyarakat Balim seperti kami alami waktu pertama datang di daerah ini. Kami diterima dengan baik dan ramah, tetapi mereka tidak memerlukan sesuatu dari kami, karena mereka sudah memiliki segala sesuatu yang mereka butuhkan itu. Mereka nampaknya sehat dan bahagia, …Kami menjadi kagum waktu melihat bagaimana masyarakat Balim hidup dalam harmoni…dan semangat kebersamaan dan persatuan…saling bersalaman dalam acara suka dan duka…” ( Sumber: Kebudayaan Suku Hubula Lembah Balim-Papua, 2019, hal. 85-86).

Pengakuan Pastor Frans Lieshout mempertegas atau mendukung kebenaran kemerdekaan dan kedaulatan Penduduk Orang Asli Papua. Saya ambil salah satu contoh dari suka saya sendiri, orang Lani.

Kata “Lani” akan memiliki arti yang jelas, lebih dalam dan luas, jika ditambah dengan kata “Ap” berarti menjadi Ap Lani yang mengandung makna, yaitu: “Orang-orang Otonom, mandiri, independen dan berdaulat penuh.”

Dalam buku: Kita Meminum Air Dari Sumur Kita Sendiri” (Yoman, 2010, hal. 92) penulis menjelaskan sebagai berikut:

Kata Ap Lani artinya: ” orang-orang independen, orang-orang yang memiliki otonomi luas, orang-orang yang merdeka, yang tidak diatur oleh siapapun. Mereka adalah orang-orang yang selalu hidup dalam kesadaran tinggi bahwa mereka memiliki kehidupan, mereka mempunyai bahasa, mereka mempunyai sejarah, mereka mempunyai tanah, mereka mempunyai gunung, mereka mempunyai hutan, mereka mempunyai sungai, mereka mempunyai dusun yang jelas, mereka mempunyai garis keturunan yang jelas, mereka mempunyai kepercayaan yang jelas, mereka mempunyai kemampuan untuk mengatur, dan mengurus apa saja, mereka tidak pernah pindah-pindah tempat, mereka hidup tertib dan teratur, mereka mempunyai segala-galanya.”

  1. Papua Merdeka Tidak Ada Hubungan Dengan Agama Kristen, Islam, Hindu, Budha, Konghucu, Atheis dan Komunis.

Kemerdekaan Orang Asli Papua yang paling hakiki, mendasar dan fundamental ialah menghormati perbedaan keyakinan iman dan agama. Agama dan iman adalah urusan masing-masing orang dengan Tuhan.

Dengan keyakinan itu, saya mengatakan:

“INGAT BAIK-BAIK,  rakyat dan bangsa Papua Barat jangan  sibuk dengan mengurus atau mengganggu agama orang lain, itu sama saja kita bagian dari orang-orang yang menciptakan kekacauan dunia dan merusak SOLIDARITAS dan menjauhkan Sahabat.

Sebaiknya, rakyat dan bangsa Papua Barat harus sibuk membangun iman kita masing-masing, supaya kita menjadi seperti lilin yang bercahaya untuk kedamaian dunia, kedamaian Indonesia dan ada kedamaian permanen di Papua.

Orang Asli Papua berkewajiban menjadi penjaga dan pelindung saudara-saudara Muslim, Hindu, Budha, Konghucu dan Atheis dan sebaliknya.

Kita boleh berbeda dalam keyakinan iman dan pandangan ideologi, tapi kita tetap  bersaudara dalam martabat kemanusiaan dan kesetaraan.

Karena kita berjuang bukan melawan agama, bukan melawan saudara-saudara pendatang, kita berjuang karena kami mempunyai hak politik untuk merdeka dan berdaulat di atas Tanah leluhur kami.

Kami TAHU, siapa musuh atau lawan kami dan siapa kawan atau teman kami.
(Ita Wakhu Purom, 22 Juli 2022).

Saudara-saudara, ketika Anda datang ke TANAH kami,  rumah kami, honai, para-para kami, masuk dalam perahu kami di TANAH leluhur kami di Papua, kami sudah terima Anda semua dan kami sudah sambut  dan tempatkan Anda dipaha kami. Kami hidup bersama, hidup harmoni dan damai, saling mengasihi dan saling menopang sudah bertahun-tahun. Anda adalah saksi. Anda telah mengukir sejarah hidup bersama kami. Kami tidak pernah dan belum pernah marah dan mengusir Anda. Kami kasih tanah kami dengan cara Anda membeli.

Waktu Anda ke kampung-kampung, kami makan ubi bersama, kami makan papeda bersama, kami duduk cerita dan tertawa bersama, kami ijinkan Anda tidur dalam honai kami. Di sana Anda tidak  temukan orang jahat. Anda melihat manusia-manusia hidup bermartabat dan terhormat yang penuh dengan kasih sayang dan persaudaraan dan hidup hargai kesetaraan sebagai sesama manusia. Anda disapa dan dipeluk seperti saudara-saudara kandung. Kami tidak pernah melihat Anda rambut lurus,kami belum pernah membedakan Anda Muslim. Kami melihat Anda manusia sama seperti kami.

Kadang-kadang kami bergurau dengan Anda yang Muslim: ” Hei ko (kamu) makan daging babi ini, di sini tidak ada yang lihat ko (kamu) to?” Karena gurauan segar dan tulus seperti itu, kita sudah membangun rasa persaudaraan sejati yang kuat diantara kita untuk hidup bersama dengan harmonis di TANAH leluhur kami dengan menjauhkan dan menyingkirkan perbedaan.

Kalau tulisan ini dibaca oleh anak-anak Non Papua,  yang lahir dan besar di TANAH Papua, penulis meminta untuk tambahkan dan juga membagikan secara luas. Supaya Anda dan kami sama-sama sampaikan kepada penguasa Indonesia, aparat TNI-Polri dan semua orang Indonesia bahwa Anda semua salah dan keliru menilai dan merendahkan martabat Penduduk Orang Asli Papua. Dan salah mendengar dari orang-orang tidak bertanggungjawab. Papua Barat merdeka bukan mengusir orang-orang pendatang dari Indonesia.

Di TANAH ini ada Penduduk Asli Kristen dan Asli Muslim. Jadi, secara iman, masing-masing berkeyakinan bahwa kami merdeka dan berdaulat dalam iman masing-masing. Orang-orang  Kristen percaya bahwa mereka berdaulat dan merdeka di dalam Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Saudara-saudara Muslim juga mempunyai kedaulatan dalam Allah dengan berkeyakinan Nabi Muhammad, SAW adalah Nabi utusan Allah.

Jadi, Kristen dan Muslim orang-orang Asli Papua berkeyakinan bahwa secara iman hidup sebagai orang-orang merdeka dan berdaulat. Karena itu, saya berkeyakinan: “Orang Asli Papua berkewajiban menjadi penjaga dan pelindung saudara-saudara Muslim, Hindu, Budha, Konghucu dan Atheis, Komunis dan sebaliknya.”

3.  1 Desember 1961

Rakyat dan bangsa Papua tidak berjuang untuk merdeka. Karena 1 Desember 1961 rakyat dan bangsa Papua Barat sudah menyatakan kemerdekaan politik. Beberapa Negara merdeka, tidak salah 4 Negara pernah hadir dalam deklarasi kedaulatan itu. 

Ada simbol-simbol atau lambang-lambang bangsa dan Negara Papua. Ada wilayah, ada rakyat, ada bendera Bintang Kejora, ada lagu kebangsaan: Hai Tanahku Papua;  ada mata uang Gulden; ada lambang Negara burung Mambruk, ada Parlemen.

Kemerdekaan ini dianekasi dengan agresi dan invansi militer melalui Maklumat Tiga Komando Rakyat (Trikora), dan salah satu butir penting yang diakui oleh Ir. Sukarno di alun-alun Yogjakata pada 19 Desember 1961 sebagai berikut:

“Bubarkan Negara Papua Buatan Belanda Itu.”

Dalam maklumat Trikora itu, Ir. Sukarno tidak pernah sebut kata: “Boneka”.

Sejarah mencatat bahwa 1 Desember 1961 benar-benar ada, karena ada para pelaku sejarah pendirian Negara Papua.

Dunia ini bukan hanya milik Indonesia, dunia ini milik bangsa Papua dan milik semua bangsa-bangsa yang ada di bumi ini.

Doa dan harapan saya, tulisan ini membuka wawasan  para pembaca. Selamat mengecap dan menikmati tulisan ini.

Ita Wakhu Purom, 10 Agustua 2022

Penulis:

  1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua (PGBWP)
  2. Anggota Dewan Gereja Papua (WPCC).
  3. Anggota Konferensi Gereja-Gereja Pasifik (PCC).
  4. Aliansi Baptis Dunia (BWA).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *