Breaking News
banner 728x250

Apakah Indonesia Sedang Menuju Ke Tebing Kehancuran Dan Keterpecahan?

Avatar photo
banner 120x600
banner 468x60

Foto Pdt. Socratez Sofyan Yoman- The TPNPB News/

(Kasus Ferdy Sambo merusak reputasi Kepolisian Indonesia dan mutilasi empat warga sipil merusak reputasi TNI: Dua pilar NKRI sedang membusuk dari dalam tubuhnya sendiri)

banner 325x300

Oleh : Gembala DR. A.G. Socratez Yoman

Mengapa saya memilih judul perspektif ini dengan “apakah Indonesia sedang menuju ke tebing kehancuran dan keterpecahan?

Apakah saya ada alasan dan indikator yang masuk akal untuk mendukung prediksi ini?

Jawaban dari dua pertanyaan ini sebagai berikut;

  1. Di Indonesia sudah tidak berlaku hukum tertulis, tapi ada hukum mayoritas, hukum kekuasaan dan hukum kepentingan yang mewarnai dalam  kehidupan berbangsa dan bernegara.
  2. Nilai-nilai Pancasila sudah tidak mencerminkan dalam penyelenggaraan pemerintahan Republik Indonesia. Moralitas penguasa belum menjadi nurani birokrasi di negeri ini sehingga birokrasi pemerintah jauh dari roh keadilan dan humanisme.
  3. Bhineka Tunggal Ika sudah hilang rohnya dan  sudah diganti dengan rasisme menjawai watak dan perilaku para penguasa birokrasi dan para pemimpin Indonesia. Pada gilirannya telah menaburkan bibit-bibit ketidakharmonisan dan keretakan dari berbagai suku di Indonesia.

Contoh hancurnya pilar Bhineka Tunggal Ika sebagai berikut:

Menteri Sosial ( Mensos ) Tri Rismaharini sangat merendahkan dan menghinakan orang asli Papua, pada 13 Juli 2021.

“Sekarang saya enggak mau lihat seperti ini, kalau saya lihat lagi, saya pindahkan ke Papua, saya enggak bisa mecat kalau enggak ada salah, tapi saya bisa pindahkan ke Papua sana teman-teman.”

Pernyataan Risma yang rasis ini kemudian dikomentari banyak orang. Salah satunya budayawan Sudjiwo Tedjo karena dianggap merendahkan Papua. Sentilan Tedjo ini dicuitkan dalam akun Twitternya @SudjiwoTedjo.

“Maaf, Bu Risma, bila berita ini benar, apakah Bu Risma tidak sedang merendahkan Papua?,” demikian tulis Sudjiwo Tedjo pendek saja di akun Twitternya.

Paling kejam lagi ialah Ibu Megawati Sukarno Putri, menghina dan merendahkan martabat Orang Asli Papua  yang berwatak RASIS yang mengatakan John Wempy Wetipo “kopi susu.”

Yang paling tidak bermoral dan tidak manusiawi  dari Jenderal TNI Prof. Dr. Abdullah Mahmud Hendropriyono, S.T., S.H., M.H atau sering disebut A.M. Hendropriyono menghina dan merendahkan Orang Asli Papua, bahwa;

“….pindahkan saja dua juta orang asli Papua ke Manado dan orang-orang Manado dipindahkan ke Papua, supaya dengan sendirinya hilang…”

Yang berwatak rendah dan  rasis juga datang dari Jenderal TNI Luhut Binsar Pandjaitan, M.P.A.  Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia Kabinet Kerja dan Kabinet Indonesia Maju, pernah menghina Orang Asli Papua;

“Pergi saja ke Melanesia sana, jangan tinggal di Indonesia.”

Perilaku diskriminasi rasial atau rasisme dari waktu ke waktu, berada pada posisi  Status Quo (tidak pernah berubah) seperti ini benar-benar melengkapi dan menyempurnakan kekejaman dan kebiadaban penguasa kolonial modern Indonesia Indonesia yang menduduki dan menjajah terhadap rakyat dan bangsa Papua Barat. 

  1. Bangsa Indonesia sudah tergadai dengan utang luar negeri dengan total 7.000 triliuan rupiah. Indonesia dibangun dengan utang penjaman luar negeri.
  2. Rakyat miskin di Indonesia hampir mayoritas yang menjadi beban pemerintah.

6..Rakyat tidak berpendidikan di Indonesia hampir mayoritas yang membahayakan Indonesia, karena  orang-orang  “tidak berpendidikan” dengan mudah dimanfaatkan, diprovokasi  dan diobyekkan dengan jalan mengadu-domba untuk berbagai tujuan dan kepentingan. 

  1. Para penguasa dan elit di Indonesia saling menyerang satu dengan lain dan tidak saling percaya, saling menghormati dan saling mendengarkan satu sama lain.
  2. Kasus Ferdy Sambo merusak reputasi Kepolisian Indonesia dan mutilasi empat warga sipil merusak reputasi TNI: Dua pilar NKRI sedang membusuk dari dalam tubuhnya sendiri.
  3. Kasus mutilasi dan membakar empat warga sipil di Timika pada 22 Agustus 2022 dan penyiksaan tiga warga sipil dan satu meniggal dunia pada 30 Agustus 2022 di Mappi menjadi tekanan seluruh media  internasional yang sedang “menghakimi dan menghukum” pemerintah Indonesia. Indonesia tidak bisa berbohong lagi di forum PBB.
  4. Indonesia menjadi negara  pelaku pelanggaran berat HAM dan juga gagal menyelesaikan seluruh kasus pelanggaran HAM berat di Papua.

Doa dan harapan saya, tulisan singkat ini memberikan pencerahan untuk para pembaca. Selamat membaca. Tuhan Yesus memberkati.

Penulis:

  1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.
  2. Anggota: Dewan Gereja Papua (WPCC).
  3. Anggota Konferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC)
  4. Anggota Baptist World Alliance (BWA)
banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *