banner 728x250

ABDURRAHMAN WAHID-GUS DUR (ALM) MANUSIA BERBUDI LUHUR YANG SELALU ADA DI HATI ORANG ASLI PAPUA

Avatar photo
banner 120x600

Gembala DR. A.G. Socratez Yoman

Artikel, “Gus Dur pernah nyalakan lilin cahaya harapan pada pada 1 Januari 2000, tapi lilin cahaya harapan itu dipadamkan/dimatikan oleh Ibu Megawati Soekarno Putri pada 10 November 2001”

Oleh Gembala DR. A.G. Socratez Yoman

“Bapak Gusdur (alm) adalah pemberian Tuhan untuk bangsa Indonesia dan orang unik dan mahal yang pernah mengukir sejarah keadilan,  keseteraan, martabat kemanusiaan dan perdamaian di Indonesia dan Papua. He is the Legent forever” ( ini tulisan saya pada 3 Agustus 2022, kepada sahabat saya berinisial MN).

Ada jawaban sahabat saya yang berinisial MN dan sahabat ini orang NU. Jawabannya sebagai berikut:

“Terimakasih bapak atas sharingnya. Saya jadi penasaran apa yang sudah dilakukan Gusdur sehingga membuat masyarakat Papua begitu mencintai beliau.”

Jawaban pertanyaan diuraikan sebagai berikut. Kami rindu supaya orang-orang Indonesia menghargai martabat kami sebagai manusia bukan sebagai monyet. Gus Dur melihat dan menghargai kami sebagai manusia, tapi bukan seperti hewan monyet, separatis, makar, opm, kkb dan teroris.

Benarlah yang dikatakan Boaz Solossa:

“Mana yang lebih bermartabat,  apakah manusia-manusia yang mencari ilmu di rumah manusia, atau manusia-manusia yang mencari makan di rumahnya monyet?”

Peristiwa tanggal 16 Agustus 2019,  jelas-jelas bertolak belakang dengan hati nurani dan keluhuran budi bapak Gus Dur dan kita semua.

Mengapa rakyat Papua, terutama Orang Asli Papua mencintai Gus Dur?

Pada 31 Desember 1999, presiden ke-4 Republik Indonesia, bapak Abdurrahman Wahid-Gus Dur (alm.) pada jam 20.00 waktu Papua, duduk makan malam bersama dengan rakyat dan para tokoh Papua di Gedung Negara Papua.

Waktu itu, saya salah satu dari para pemimpin yang duduk satu meja dengan bapak dan guru bangsa, Gus Dur.

Saya merasa terhormat karena mendengar perkataan-perkataan Gus Dur pada malam bersejarah itu. Di meja Gus Dur ada Pdt. Dr. Benny Giay dekat kursi bapak Gus Dur dan saya besebelahan dengan Pdt. Giay. Bapak Uskup Jayapura, Dr. Leo Laba  Ladjar, OFM, Pdt. Herman Saud, Ketua Sinode GKI, Ketua MUI Papua, Haji Husein, dan beberapa pemimpin ada bersama-sama satu meja dengan bapak Gus Dur.

Saya masih ingat penyampaikan Pdt. Dr. Benny Giay:

“Bapak Presiden, saya mau sampaikan: mayoritas rakyat Papua mau merdeka lepas dari Indonesia.”

Jawaban dari Gus Dur yang saya masih ingat dua perkataan penting dari mulut bapak Gus Dur sebagai berikut:

  1. Papua ini dirusak oleh TNI-Polri;
  2. Saya diperintah oleh konstitusi Negara untuk menjaga NKRI.

Kenangan yang tidak bisa dilupakan Orang Asli Papua tentang beberapa keputusan historis yang diukir oleh bapak Gus Dur, yaitu:

  1. Mengubah nama Irian Jaya menjadi Papua.
  2. Mengijinkan Kibarkan Bendera Bintang Kejora sebagai bendera kultur Papua.
  3. Mengijinkan pelaksanaan Kongres II Nasional;
  4. Membantu dana 1 milyar untuk Kongres II Nasional.

Ada kedekatan emosional yang terbangun antara Orang Asli Papua dengan Gus Dur, tentu saja masyarakat NU karena keyakinan kami,Gus Dur adalah NU dan NU adalah Gus Dur

Dulu selama rezim Orde Baru, adalah tabu jika orang Papua menyebut diri mereka sebagai orang Papua. Pemerintahan Soeharto secara politis mengidentikkan Papua dengan gerakan separatis Organisasi Papua Merdeka. Namun, Gus Dur meruntuhkan tembok-tembok ketakutan itu.

Yehezkiel Belaw benar:

“Karena Gus Dur, kami tidak takut-takut lagi menyebut diri kami orang Papua, dan kami bangga dengan itu.”  ( B. Josie Susilo Hardianto dalam buku Gus Dur: Santri Par Excellence Teladan Sang Guru Bangsa (2010) suntingan Irwan Suhanda.

Bendera Bintang Kejora selama ini dianggap sebagai lambang separatis. Namun oleh Gus Dur bendera ini dinilai sebagai lambang kultural sehingga diperbolehkan untuk berkibar dengan syarat dikibarkan di bawah bendera Merah-Putih.

Harapan dan doa dari Orang Asli Papua:

Kalau Gus Dur masih ada dan hidup,  evaluasi Otsus  jilid I melibatkan OAP.

Kalau Gus Dur masih ada dan hidup, perubahan atau rancangan Otsus jilid 2 melibatkan OAP.

Kalau Gus Dur masih ada dan hidup di bumi ini,  di bumi Indonesia, DOB Boneka Indonesia tidak dipaksakan oleh penguasa lalim, rasis, fasis, barbar, kriminal dan berkultur militer yang berkuasa sekarang ini.

Kalau Gus Dur masih ada dan hidup, pasti datang ke TANAH Papua mau mendengarkan getaran hati dan denjutan jantung Orang Asli Papua sebelum Otsus dieveluasi dan DOB Boneka Indonesia ditetapkan.

Kalau Gus Dur masih ada dan hidup,  mau  dan rela mendengarkan suara dan harapan orang Asli Papua dari mata hatinya dan mata imannya.

Saya yakin, walaupun Abdurrahman Wahid -Gus Dur (alm) sudah tiada secara fisik, tapi  roh kemanusiaan, roh keadilan, roh kasih sayang yang tulus, roh kesamaan derajat, roh kedamaian, roh keharmonisan yang ditabur dan ditanam oleh Gus Dur itu masih ada dan hidup serta bercahaya dalam hidup saudara-saudara terkasih PBNU di seluruh Indonesia.

Gus Dur  adalah sahabat Orang Asli Papua yang melampaui dan melintasi batas-batas kekakuan beragama, berbangsa dan bernegara demi martabat kemanusiaan, keadialan, kesamaan derajat, demokrasi sejati, kedamaian permanen, harmoni kehidupan sebagai sesama manusia.

Saya tidak sama dan tidak akan pernah sama dengan bapak Abdurrahman Wahid-Gur Dur yang hebat, tapi saya mempunyai pandangan dan keyakinan sebagai berikut:

“INGAT BAIK-BAIK,  rakyat dan bangsa Papua Barat jangan  sibuk dengan mengurus atau mengganggu agama orang lain, itu sama saja kita bagian dari orang-orang yang menciptakan kekacauan dunia dan merusak SOLIDARITAS dan menjauhkan Sahabat.

Sebaiknya, rakyat dan bangsa Papua Barat harus sibuk membangun iman kita masing-masing, supaya kita menjadi seperti lilin yang bercahaya untuk kedamaian dunia, kedamaian Indonesia dan ada kedamaian permanen di Papua.

Orang Asli Papua berkewajiban menjadi penjaga dan pelindung saudara-saudara Muslim, Hindu, Budha, Konghucu dan Atheis dan sebaliknya.

Kita boleh berbeda dalam keyakinan iman dan pandangan ideologi, tapi kita tetap  bersaudara dalam martabat kemanusiaan dan kesetaraan.

Karena kita berjuang bukan melawan agama, bukan melawan saudara-saudara pendatang, kita berjuang karena kami mempunyai hak politik untuk merdeka dan berdaulat di atas Tanah leluhur kami.

Kami TAHU, siapa musuh atau lawan kami dan siapa kawan atau teman kami.

(Gembala DR. A.G. Socratez Yoman). Ita Wakhu Purom, 22 Juli 2022.

Doa dan harapan saya, tulisan singkat ini menggugah hati dan pikiran para pembaca.

Selamat membaca. Tuhan memberkati.

Ita Wakhu Purom,  8 Agustus 2022

Penulis:

  1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.
  2. Anggota: Dewan Gereja Papua (WPCC).
    3  Anggota Konferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC)
  3. Anggota Baptist World Alliance (BWA).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *