banner 728x250

14 Alasan Indonesia Sedang Menuju Ke Tebing Kehancuran, Keterpecahan,Dan Mutilasi Dari Kesatuan Republik Indonesia

banner 120x600

Foto Pendeta Sokratis Sofyan Yoman dok The TPNPB News/Vull 08/09/2022

“Kalau pemerintah memperhatikan kebohongan, semua pegawainya menjadi fasik. Kecongkakan mendahului kehancuran dan tinggi hati mendahului kejatuhan” (Amsal 29:12; 16:18)

Oleh: Gembala DR. A.G. Socratez Yoman

Ada banyak alasan bangsa Indonesia sedang menuju ke tebing kehancuran  dan keterpecahan, tapi saya kemukakan hanya empat belas alasan bangsa Indonesia dalam keadaan sedang sakit dan berada dalam bahaya “dimutilasi atau berkeping-keping” di tangan para penguasa paranoid dan hipokresi.

Saya analisa dan melihat 14 alasan bangsa Indonesia sedang menuju ke tebing kehancuran, keterpecahan, dimutalasi dan berkeping-keping, sebagai berikut:

  • Korupsi merajalela di kalangan elit Indonesia dan para koruptor dilindungi dan dibiarkan bebas dan memiliki daya impunitas. Korupsi merupakan penyakit “kanker ganas” yang merong-rong, melumpuhkan dan menghancurkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.
  • Kekerasan terhadap rakyat sipil meningkat tajam di seluruh Indonesia dan lebih khusus terhadap Orang Asli Papua selama 61 tahun sejak 19 Desember 1961 sampai sekarang. Sejarah berbicara, bahwa Negara yang melakukan kekerasan terhadap rakyat sipil, biasanya negara itu sering hilang sebagaian wilayahnya atau negara itu runtuh dan berkeping-keping.
  • Indonesia, lebih khusus Papua dibangun dengan kebohongan, ketidakadilan, janji-janji kosong, perampokkan dan pencurian sumber daya alam tanpa memperhatikan kehidupan kesejahteraan penduduk asli sebagai pemilik Tanah.
  • Di Indonesia sudah tidak berlaku hukum tertulis, tapi ada hukum mayoritas, hukum kekuasaan, hukum kekerasan negara, dan hukum kepentingan yang mewarnai dalam  kehidupan berbangsa dan bernegara.
  • Nilai-nilai Pancasila sudah tidak mencerminkan dalam penyelenggaraan pemerintahan Republik Indonesia. Moralitas penguasa belum menjadi nurani birokrasi di negeri ini sehingga birokrasi pemerintah jauh dari roh keadilan dan humanisme.
  • Bhineka Tunggal Ika sudah hilang rohnya dan  sudah diganti dengan rasisme menjawai watak dan perilaku para penguasa birokrasi dan para pemimpin Indonesia. Pada gilirannya telah menaburkan bibit-bibit ketidakharmonisan dan keretakan dari berbagai suku di Indonesia.

Contoh hancurnya pilar Bhineka Tunggal Ika sebagai berikut:

Menteri Sosial ( Mensos ) Tri Rismaharini sangat merendahkan dan menghinakan orang asli Papua, pada 13 Juli 2021.

“Sekarang saya enggak mau lihat seperti ini, kalau saya lihat lagi, saya pindahkan ke Papua, saya enggak bisa mecat kalau enggak ada salah, tapi saya bisa pindahkan ke Papua sana teman-teman.”

Pernyataan Risma yang rasis ini kemudian dikomentari banyak orang. Salah satunya budayawan Sudjiwo Tedjo karena dianggap merendahkan Papua. Sentilan Tedjo ini dicuitkan dalam akun Twitternya @SudjiwoTedjo.

“Maaf, Bu Risma, bila berita ini benar, apakah Bu Risma tidak sedang merendahkan Papua?,” demikian tulis Sudjiwo Tedjo pendek saja di akun Twitternya.

Paling kejam lagi ialah Ibu Megawati Sukarno Putri, menghina dan merendahkan martabat Orang Asli Papua  yang berwatak RASIS yang mengatakan John Wempy Wetipo “kopi susu.”

Yang paling tidak bermoral dan tidak manusiawi  dari Jenderal TNI Prof. Dr. Abdullah Mahmud Hendropriyono, S.T., S.H., M.H atau sering disebut A.M. Hendropriyono menghina dan merendahkan Orang Asli Papua, bahwa;

“….pindahkan saja dua juta orang asli Papua ke Manado dan orang-orang Manado dipindahkan ke Papua, supaya dengan sendirinya hilang…”

Yang berwatak rendah dan  rasis juga datang dari Jenderal TNI Luhut Binsar Pandjaitan, M.P.A.  Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia Kabinet Kerja dan Kabinet Indonesia Maju, pernah menghina Orang Asli Papua;

“Pergi saja ke Melanesia sana, jangan tinggal di Indonesia.”

Perilaku diskriminasi rasial atau rasisme dari waktu ke waktu, berada pada posisi  Status Quo (tidak pernah berubah) seperti ini benar-benar melengkapi dan menyempurnakan kekejaman dan kebiadaban penguasa kolonial modern Indonesia Indonesia yang menduduki dan menjajah terhadap rakyat dan bangsa Papua Barat. 

  • Bangsa Indonesia sudah tergadai dengan utang luar negeri dengan total 7.000 triliuan rupiah. Indonesia dibangun dengan utang penjaman luar negeri.
  • Rakyat miskin meningkat setiap tahun di Indonesia dan hampir mayoritas  menjadi beban pemerintah atau negara.
  • Rakyat tidak berpendidikan di Indonesia hampir mayoritas yang membahayakan Indonesia, karena  orang-orang  “tidak berpendidikan” dengan mudah dimanfaatkan, diprovokasi  dan diobyekkan dengan jalan mengadu-domba untuk berbagai tujuan dan kepentingan. 
  1. Para penguasa dan elit di Indonesia saling menyerang satu dengan lain dan tidak saling percaya, saling menghormati dan saling mendengarkan satu sama lain.
  2. Kasus Ferdy Sambo merusak reputasi Kepolisian Indonesia dan mutilasi empat warga sipil merusak reputasi TNI: Dua pilar NKRI sedang membusuk dari dalam tubuhnya sendiri.
  3. Kasus mutilasi dan membakar empat warga sipil di Timika pada 22 Agustus 2022 dan penyiksaan tiga warga sipil dan satu meniggal dunia pada 30 Agustus 2022 di Mappi menjadi tekanan seluruh media  internasional yang sedang “menghakimi dan menghukum” pemerintah Indonesia. Indonesia tidak bisa berbohong lagi di forum PBB.
  4. Indonesia menjadi negara  pelaku pelanggaran berat HAM dan juga gagal menyelesaikan seluruh kasus pelanggaran HAM berat di Papua.
  5. Penguasa melindungi dan memelihara para pelaku kejahatan kemanusiaan dan diberikan jabatan dan kedudukan.

Doa dan harapan saya, tulisan singkat ini memberikan pencerahan untuk para pembaca. Selamat membaca. Tuhan Yesus memberkati.

Penulis:

  1. Presiden Persekutuan Gereja-gereja Baptis West Papua.
  2. Anggota: Dewan Gereja Papua (WPCC). 
  3. Anggota Konferensi Gereja-gereja Pasifik (PCC)
  4. Anggota Baptist World Alliance (BWA).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *